Beda Ulama Tarekat dan Ulama Syariat

Kudus, NU Online

Kiai Dzikron dari Semarang mengatakan ulama tarekat berbeda dengan ulama syariat. Ulama syariat belum tentu mengerti tarekat, hanya mengerti syariat.

“Mereka biasa disebut dengan kelompok garis keras atau golongan sumbu pendek. Mereka mengucapkan takbir tapi tidak dari hati. Para ahli tarekat yang memegang teguh tarekatnya, insyaallah tidak akan memicu terjadinya intoleransi,” katanya pada Maulid Nabi Muhammad Saw dan Haul Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani di Pondok Pesantren Manba’ul Falah Piji, Dawe, Kudus, Rabu (19/12) malam.  

Pada kesempatan tersebut ia juga menjelaskan beberapa pesan penting, di antaranya ialah hal yang harus dimiliki oleh seorang murid adalah sikap jujur dan takdhim kepada guru atau mursyidnya. Ia menyebutkan dalam Tarekat Tijaniyah sebutan bagi seorang guru adalah muqoddam (pemimpin), bukan mursyid.

“Para ahli tarekat harus senantiasa istiqomah dalam bertarekat,” tegasnya. 

Salah satu santri alumni Pesantren Manba’ul Falah yang telah menjadi polisi juga menyampaikan bahwa dzikir para salik dalam tarekat berbeda dengan bacaan tahlil yang bernada pada umumnya, contohnya seperti tahlil kematian. Dzikir ahli tarekat tidak bernada, namun dikhususkan meresap ke dalam hati para salikin dengan berusaha menghadirkan Allah dalam hatinya.

Rabu pagi (19/12), ribuan jama’ah menghadiri haflah maulid Nabi Muhammad SAW dan haul Syaikh Abdul Qodir Al-Jiilani R.A di Pondok Pesantren Manba’ul Falah Piji, Dawe, Kudus pimpinan Romo Kyai Haji Affandi Shiddiq yang merupakan mursyid thariqoh Qodiriyah wa Naqsabandiyah (TQN) di desa Piji Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus.

Maulid Nabi dibuka dengan pembacaan dzikir bersama dan manaqib Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani. Dalam acara tersebut turut hadir pula para ulama di antaranya KH Asnawi Fauzan selaku mudirul ma’had Darul Ulum Pasuruan; serta rombongan jamaaah TQN Tasikmalaya dan jamaah TQN Cirebon. Sementara dari Jakarta sendiri hadir rombongan jama’ah Majelis Mihrobul Muhibbin pimpinan KH.Ahmad Shodiq. (Siti Nurjannah/Kendi Setiawan)


Artikel ini telah terbit di: Nu.or.id dengan judul: Beda Ulama Tarekat dan Ulama Syariat