Belajar Toleransi dari Gusdurian

Gusdurian senantiasa berusaha mengerti dan mengimplementasikan makna terdalam dari apa yang dinamakan toleransi. Tidak hanya toleransi antarmanusia yang sama atau beda iman, tetapi juga toleransi dengan semesta.

Itulah sebersit kalimat yang saya bisa saya sarikan dari hasil diskusi dengan teman-teman Gusdurian lintas daerah, beberapa waktu lalu di Café Intermezzo Ciputat. Acara ini diisi oleh dua pemateri dari generasi yang berbeda. Materi pertama diisi oleh Presidium Gusdurian Jabar, Bapak Subhi Azhari.

Adapun materi yang kedua di isi oleh Mas Dwi Purnomo, PC Hikmah Budi (Ikatan Organisasi Budha di Jakarta). Keduanya berbicara tema yang sama namun dengan perspektif yang berbeda. Satu dari sisi Islam dan yang satu dari sisi Buddha.

Meskipun core dari acara ini adalah memperingati hari toleransi Internasional—sebagaimana kita tahu bahwa hari toleransi pertama kali didengungkan oleh PBB—namun titik tekan yang dibahas dalam diskusi ini adalah toleransi di Indonesia, dan tentunya “posisi” Gus Dur di dalamnya.

Subhi mengawali pembukaan materinya dengan menyinggung bagaimana sosok Gus Dur yang sering dikaitkan dengan toleransi di Indonesia. Baginya, Pemikiran maupun pandangan Gus Dur tentang toleransi—khususnya lintas iman—sering disalah artikan.

Beberapa kelompok sering melihat Gus Dur selama masa hidupnya sebagai orang yang lebih mementingkan kelompok agama lain daripada orang Islam sendiri (sebagai agama yang diyakini Gus Dur tentunya).

Bahkan lebih parahnya, Gus Dur dianggap sebagai antek Yahudi, antek Cina, Konghucu, dll. Pandangan tersebut selain pandangan yang sembrono, tentu juga sebagai pandangan yang salah kaprah. Mungkin bisa jadi mereka memang belum mengenal Gus Dur secara mendalam.

Baca Juga:  Bersatu Melawan Teroris Berselimut Agama

Toleransi intra iman mungkin sudah menjadi hal yang sangat wajar, bahkan akan sangat dipertanyakan keislaman kita ketika tidak bisa bertoleransi dengan intra iman kita sendiri ketika terjadi perbedaan pandangan. Namun bagaimana bila kita ditanya tentang toleransi kita dengan golongan antariman?

Di tahap awal misalnya ketika kita mempunyai tetangga non-Muslim, mungkin hal yang wajar apabila kita sekadar tegur sapa dengan mereka. Akan tetapi, membersihkan tempat ibadah mereka secara suka rela? Berdiskusi dengan mereka? Tunggu dulu. Di sinilah sudah terlihat sekat pembatas.

Subhi melanjutkan bahwa masalah yang terjadi di masyarakat Indonesia dalam hal toleransinya dengan non-Muslim adalah tidak adanya pendidikan toleransi antar iman “yang pas” sedari kecil kita. Dari kecil—apalagi di warga yang homogen Muslim semua misalnya—akan sangat kecil kemungkin kita bersinggungan dengan non-Muslim. Sedangkan kalau di dalam masyarakat perkotaan yang kebanyakan sudah hidup dalam lingkungan heterogen pun, masih sangat jarang adanya penanaman toleransi di masa dini.

Kebanyakan masyarakat masih bimbang apakah berinteraksi dengan mereka itu dibenarkan atau tidak, karena kalau sampai salah maka gambaran akan balasan Tuhan sangat terlihat jelas. Padahal di sisi lain, Gus Dur berpendapat bahwa tidak perlu kamu menanyakan apa agamamu ketika kamu hendak menolong seseorang.

Baca Juga:  Ketika Nasruddin Hoja Menuntut Kesetaraan

Oleh karenanya, Subhi menambahkan, “Penanaman nilai toleransi kepada sesama maupun beda iman harus ditekankan sedari dini. Karena dengan begitu, anak-anak kita tidak akan merasa kikuk atau tabu ketika mereka berintaksi dengan orang beda agama. Inilah yang kadang masih terjadi di masyarakat Indonesia”.

Ketika sesi pertama selesai, tibalah sesi kedua dari pemateri lain. Dwi Purnomo, pemuda Buddha yang masih menjadi mahasiswa tingkat akhir di salah satu kampus Buddha di Tangerang. Apa yang dituturkan Dwi tentang toleransi lebih ditekankan pandangannya sebagai minoritas penganut Buddha yang tinggal di Indonesia.

Ia mengatakan bahwa dalam agama Buddha sebenarnya tidak ada bedanya dengan ajaran agama Islam, dalam hal ini terkait dengan ajaran toleransi. Kalau dalam Islam dikenal Islam rahmatan lil’alamin, dalam Buddha dikenal apa yang disebut sebagai “cinta kasih”. Cinta kasih sangat ditekankan dalam ajaran Buddha. Maka dari itu secara umum tidak ada masalah dalam hal ini. Karena setiap agama mengajarkan cinta kasih itu.

Yang sering menjadi persoalan adalah, lanjut Dwi, “Terkadang kita sebagai minoritas agak merasa tak enak ketika ada sebagian Muslim yang berbicara—secara implisit terlebih secara eksplisit—bahwa masyarakat Buddha itu ya mereka yang makanannya babi ataupun anjing”. Baginya, pernyataan ini ada benarnya, namun tidak benar kalau digeneralisir. Kenapa?

Sebab dalam masyarakat Buddha sendiri tidak semua memakan babi, karena di antara kami—tuturnya—ada juga yang vegetarian.

Setelah ia selesai berbicara, tibalah sesi tanya jawab. Kebanyakan dari tiga penanya menanyakan tentang batasan bertoleransi dalam agamanya masing-masing. Subhi menjawab bahwa batasan toleransi terhadap lintas iman terkadang tidak bisa dilihat dari sisi teologis semata. Akan tetapi dilihat dari sisi sosiologis juga.

Baca Juga:  HUKUM MENELAN AIR LUDAH (IDOH) SAAT PUASA.

Dalam arti, terkadang kita lupa akan bagaimana sebuah tradisi di suatu masyarakat tertentu yang di dalamnya juga dijalankan oleh masyarakat Muslim dan non-Muslim. Maka cara pandang teologis, halal haram akan sangat tidak cocok ketika melihat kasus ini. Di sisi lain, Dwi juga menyepakati apa yang dibicarakan oleh Subhi.

Hemat penulis, sudah menjadi kewajiban bagi kita semua untuk memperkukuh sifat hablum minan nas, dari pandangan ini kita sudah dapat menerka bahwa terkadang kita jangan melulu melihat seseorang dari sisi agamanya, tetapi dari sisi kemanusiaannya. Persoalannya adalah, dalam Islam sendiri—selain batasan Tauhid yang sudah jelas—terkadang karena perbedaan pandangan antara dai tentang bagaimana sikap kita terhadapa non-Muslim menjadi hal yang membingungkan bagi masyarkat awam.

Baca juga tulisan menarik lainnya Zaimul Asroor


Artikel ini telah terbit di: Alif.id dengan judul: Belajar Toleransi dari Gusdurian