Cerita Dubes Tiongkok Bersahabat dengan Muslim

Jakarta, NU Online

Duta Besar Republik Rakyat Tiongkok untuk Indonesia Xiao Qian menceritakan pengalaman persahabatan masa kecilnya dengan umat Muslim. Cerita itu disampaikannya saat berkunjung ke Pesantren Khas Kempek Cirebon, Jawa Barat, Kamis (6/12).

“Jauh pada abad ketujuh Islam telah masuk ke Tiongkok,” kata Dubes Xiao Qian pada acara yang dihadiri Waketum PBNU H Maksum Mahfoedz, Bendahara Umum PBNU H Bina Suhendra, pengurus LK PBNU, pengasuh dan santri Pesantren Khas Kempek.

Ia juga menceritakan di kampung halamannya ada sebuah masjid kuno yang telah kokoh berdiri sejak lebih dari 1200 tahun. Masjid itu bernama Masjid Taiyuan, di Provinsi Shanxi. “Saya tinggal di samping masjid itu,” kata Xiao Qian.

Saat kecil dan remaja, kata dia, ia sudah bergaul dengan umat Muslim di sekitar masjid. “Kami sekolah sekelas, bermain bersama hingga terjalin persahabatan mendalam,” lanjutnya.

Salah satu hal yang menarik adalah saat ia masih kecil, ia sering melihat kebersamaan dan keakraban umat Islam saat perayaan Idul Adha dan Idul Fitri. Hal itu semakin menambah pengenalannya terhadap agama Islam.

Kerja Sama dengan NU Perkuat Hubungan Indonesia dan Tiongkok
Warga Jabar Terbantu Fasilitas Sanitasi dari LK PBNU
Kiai Musthofa Aqil Tegaskan Persaudaraan Tak Membedakan Etnis

Melihat ramainya orang yang datang ke masjid, ada hal yang membuat Xiao Qian heran. Karena umat Islam saat masuk ke masjid meninggalkan alas kakinya di luar masjid.

Baca Juga:  Mahfud MD: Mari Dukung Terus KPK

“Saat kecil muncul pertanyaan, orang yang akan ke masjid bisa ratusan atau seribuan. Mereka melepas sepatunya di luar. Bagaimana mencari sepatu itu kembali untuk diri sendiri?” tuturnya langsung membuat santri dan hadirin tergelak-gelak.

Dubes Xiao Qian mengaku bertanya kepada imam masjid. “Kata imam masjid, itu ada caranya menaruh sepatu dan mengambilnya lagi,” katanya kembali disambut riuh.

Ia menambahkan hubungan Tiongkok dengan agama Islam bukan hal yang asing. Saat ini ada 23 juta umat Muslim di Tiongkok, 35 ribu masjid dan ada 56 ribu imam.

“Mereka dapat menikmati kebebasan beragama sesuai Undang-undang dan menjalankan ibadah agamanya,” tutup Dubes Xiao Qian.

Selain berdialog dengan para santri, Dubes Xiao Qian juga meresmikan bantuan fasilitas sanitasi untuk warga Jabar, dan memberikan bantuan buku bacaan untuk Pesantren Khas Kempek.

Terkait fasilitas sanitasi, terdapat lima titik yang mendapat bantuan pembangunan fasilitas sanitasi hasil kerja sama LK PBNU dan Kedutaan Besar Rakyat Tiongkok. Kelima titik tersebut adalah Pesantren Khas Kempek, Desa Dadap dan Krangkeng di Indramayu; serta Desa Wanakerta dan Wanasari di Karawang.

Baca Juga:  NU Depok Perkuat Kebhinekaan dan Kemanusiaan

Pembangunan fasilitas sanitasi di kelima titik dilakukan sejak awal tahun 2018. Sekretaris LK PBNU, Citra Fitri mengatakan air dan sanitasi merupakan inti dari pembangunan berkelanjutan. Secara keseluruhan penduduk Indonesia yang hidup dengan kondisi sanitasi yang buruk mencapai 72,5 juta jiwa. Akses sanitasi di perdesaan tidak bertambah secara berarti selama 30 tahun terakhir.

Selain itu, Jawa Barat, sering mengalami kekeringan. Data BNPB pada 5 September 2018 mencatat sebanyak 286.802 kepala keluarga terdampak kekurangan air bersih. Selain itu 41.946 lahan mengalami kekeringan.

Pengasuh Pesantren Khas Kempek, KH Musthofa Aqil Siroj mengatakan Islam memegang prinsip bahwa persaudaraan dan persahabatan sesama manusia tanpa melihat perbedaan etnis, suku, agama. Pasalnya semua manusia dimuliakan oleh Allah Swt. 

Kiai Musthofa menyebutkan dengan rakyat dan negara Tiongkok, Indonesia sudah menjalin hubungan baik sejak lama. Demikian juga negara Tiongkok dengan NU dan pesantren. Mengutip hadits Rasulullah Muhammad Saw, Kiai Musthofa menyebutkan sebaik-baik manusia adalah yang dapat membawa manfaat bagi manusia lainnya.

Kiai Musthofa juga berharap kerja sama tersebut dapat mempererat hubungan negara Tiongkok dan Indonesia, hubungan masyarakat kedua negara, dan dunia pendidikan dengan dunia Pendidikan.

Baca Juga:  Kenapa Politik Gus Dur Penuh dengan Guyon?

Sementara itu, Wakil Ketua Umum PBNU H Maksum Mahfoedz mengatakan hubungan baik antara negara Tiongkok dan Indonesia yang sudah berjalan sekian lama, semakin dipererat oleh hubungan Tiongkok dengan NU. Hal itu dibuktikan pada pertemuan peringatan lima tahun kerja sama strategi pembangunan lima tahun antara Tiongkok dan Indonesia, NU paling dipercaya oleh Tiongkok untuk dalam pengembangan kerja sama aspek sosial budaya.

Menurut Maksum, pada pertemuan peringatan lima tahun kerja sama tersebut, H Imam Azis, salah satu Ketua PBNU memaparkan kerja sama bidang sosial budaya antara NU dengan Tiongkok. Dalam bidang pendidikan, lanjutnya, saat ini ada belasan dosen Unusia yang tengah meneruskan belajar di sejumlah perguruan tinggi di Tiongkok.

Waketum juga mengatakan NU dengan pesantrennya sangat spesial karena para santri adalah Nahdliyin yang setia dan konsisten menyangga hubungan strategis Indonesia dan Tiongkok. “Karena keberadaan Indonesia juga terletak pada pada konsistensi NU untuk menjaga negara,” ujarnya. (Kendi Setiawan)


Artikel ini telah terbit di: Nu.or.id dengan judul: Cerita Dubes Tiongkok Bersahabat dengan Muslim