Dakwah dengan Media Seni Musik

Pertanyaan : Fenomena sekarang banyak daíi dan ustaz dalam dakwahnya menggunakan media musik. Pada akhir-akhir ini telah tumbuh grup musik, wayangan, dan rabana yang membawakan lagu yang syairnya diambil dari terjemahan dari ayat-ayat Alquran. Bagaimana hukumnya dakwah dengan musik dan melantunkan terjemahan Alquran?(Fitri-Cilacap)

Jawaban : Pada dasarnya agama Islam dapat menerima semua karya seni yang tidak bertentangan dengan ajaran dan hukum Islam. Berdakwah juga dapat dilakukan melalui media seni musik, selagi kesucian dan kehormatan serta keagungan Alquran tetap terpelihara.

Melagukan ayat-ayat suci Alquran harus mengikuti ketentuan ilmu tajwid. Boleh menyanyikan/ melagukan terjemahan Alquran, karena terjemahan Alquran tidak temasuk hukum Alquran. Kita berpegang teguh pada prinsip Alquran surat Yasin : 69 yang artinya : ‘’Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah layak baginya. Alquran itu tidak lain adalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan.’’

Baca Juga:  Dubes Singapura Apresiasi Peran Kebangsaan NU

Hadis riwayat Tabrani dan Baihaqi :

‘’Bacalah Alquran dengan gaya bahasa orang-orang Arab. Dan janganlah dengan gaya bahasa orang Yahudi dan orang Nasrani dan orang-orang yang fasik. Sesungguhnya akan datang sesudahku orang-orang yang melagukan Alquran semacam lagu nyanyian, lagu penyembahan patung, dan lagu berteriak-teriak.

Apa yang mereka baca tidak melalui tenggorokan mereka, yakni tidak sampai ke hati. Hati mereka terkena fitnah dan juga terkena fitnah hati orang-orang yang membanggakan keadaan mereka.’’ Pada masa Sunan Kalijaga, dakwah dilakukan dengan musik gamelan dengan memeragakan wayang. Sungguh sangat arif dan bijaksana dalam infiltrasi budaya Islam kepada budaya Jawa. Islam masuk nusantara tidak dengan cara kekerasan, namun menyatu dengan budaya setempat.

Baca Juga:  PBNU Tolak Klaim Sepihak dari FPI

Itulah keberhasilan metode Sunan Kalijaga saat itu. Kini keadaan sudah berubah, metode dakwah hendaknya juga berubah dengan inovasi baru, selagi dalam koridor kewajaran dan tidak menghilangkan nilai-nilai, substansi materi, dan tujuan dakwah.

Wallahu alam bis Shawab. (DR KH Fadlolan Musyaffa’, Lc, MA. Sekretaris Komisi Fatwa MUI Provinsi Jateng. Dosen UIN Walisongo, Pengasuh Ma’had Walisongo dan Ponpes Fadhlul Fadhlan Semarang-23)
Sumber: Suaramerdeka.com