Greg Barton dan Kain Batik

Greg Barton, siapa yang tak mengenalnya? Penulis buku biografi Gus Dur yang best seller itu merupakan profesor bidang politik Islam global di Deakin University, Australia. Waktu itu, saya menjumpainya di sela-sela waktu breakfast pada acara workshop Capacity Building, 11-13 Desember 2018. Kebetulan Prof. Greg menjadi fasilitator kegiatan yang digelar di sebuah kawasan di ibu kota Bangkok Thailand itu.

Ada beberapa hal yang tertarik saya tanyakan terutama pandangan Greg Barton tentang perkembangan NU, Politik Indonesia, bahkan hingga Islam Nusantara. Dengan mengenakan kemeja batik khas Indonesia di pagi terakhir pada acara itu, Indonesianis ini nampak begitu santai dan terbuka menjawab pertanyaan yang saya lontarkan kepadanya.

Sebagai pengamat Islam di Indonesia, Greg memahami konsepsi Islam Nusantara yang dikenalkan oleh tokoh-tokoh nahdliyin menuai kontroversi bagi sebagian umat Islam di Indonesia. Makanya, ia menyarankan Islam Nusantara harus dikenalkan dengan cara yang arif. Misalnya, selama ini Islam Nusantara sangat wajar lebih populer dengan amaliah kalangan nahdliyin, tapi pada dasarnya tidak exclude (melarang masuk) teman-teman dari Muhammadiyah.

Sehingga bagi Greg, tidak menjadi masalah tatkala teman-teman di Muhammadiyah agak enggan ikut berziarah atau kebiasaan yang lain di kalangan Nahdliyin. Karena Muhammadiyah sebagai salah ormas modernis yang besar, sama-sama mencerminkan semangat keindonesiaan sebagaimana NU.

Oleh karenanya, ada semacam risiko bagi teman-teman di lingkungan NU. Sikap antusiasmenya akan bisa merasa bahwa Islam Nusantara harus selaras dengan NU. Bagi seorang pengamat NU seperti Greg, yang lebih penting dari Islam Nusantara adalah isinya. Karena Islam Nusantara itu lebih dari Jawa, lebih dari NU, Islam tradisional, dan cakupannya lebih dalam dan luas lagi.

 

Islam Nusantara, Seberapa Penting?

Greg Barton meyakini bahwa prinsip Islam Nusantara itu rahmatan lil ‘alamin. Butuh suatu sikap untuk mau memberi produk bagi seluruh umat manusia terutama umat beragama di Indonesia. Greg juga menilai konsep Islam Nusantara sebagai wacana keagamaan kontemporer yang penting sekali, terutama memberian sumbangsih untuk peradaban Islam saat ini.

Oleh karena itu, muslim Indonesia harus percaya diri dan ikut bangga atas warisan dari nenek moyangnya, dan tidak harus melarikan diri mencari ke tempat lain kebenaran tentang agama.

Lalu pertanyaan selanjutnya, apakah Islam Nusantara bisa di kampanyekan ke global? Tentang pertanyaan ini, Greg Barton meyakini bahwa membumikan Islam di Nusantara merupakan wujud dari Islam rahmatan lil ‘alamin.

“Bisa, lama-lama bertahap-tahap dengan pendekatan yang soft (halus). Artinya, orang mau meniru karena mau menjadi yang dikagumi, dan tentu saja tidak bisa dipaksa-paksa. Harus arif, jangan memaksa orang lain dan tidak boleh sombong,” begitu Greg berujar sambil memberikan saya buku tentang Islam Nusantara yang sebelumnya ia peroleh dari acara di Surabaya.

Soal metodologi Islam Nusantara yang saya tanyakan, Greg mendorong sebaiknya nahdliyin fokus pada prinsipnya dan jangan memandang bahwa Islam Nusantara sesuatu yang eksklusif bagi NU saja. Karena, dalam prinsip Islam Nusantara itu menerima berbagai umat beragama. Di samping itu juga ada bermacam-macam keyakinan yang harus dihormati.

Hal ini yang barangkali ada di benak Greg Barton sebagai wujud mengenalkan Islam Nusantara dengan cara yang halus dan arif, bukan memaksa. Menawarkan sesuatu yang baru nampak bungkusnya dan belum diketahui isinya, hanya akan menimbulkan kontroversi yang berakibat sulit diterima oleh berbagai kalangan.

Perumpaan Kain Batik

Ada yang memandang bahwa Islam Nusantara merupakan konsep yang mundur, apalagi sekarang ini sudah masuk era demokrasi dan globalisasi. Untuk menepis yang demikian, Greg Barton memberikan perumpaan Islam Nusantara layaknya “kain batik”. Dahulu dianggap sangat kolot, tidak punya relevansi dan hanya untuk orang-orang di desa.

Sekarang lihat, kain batik sudah sangat laris di pasaran, baik lokal maupun internasional. Dan orang Indonesia sangat berbangga pada batiknya yang hari ini menjadi suatu lambang Indonesia di seluruh dunia. Mungkin Islam Nusantara bisa seperti begitu.

Greg mengilustrasikan, kalau ada orang asing atau bule di Indonesia mau berbelanja pakaian kemeja misalnya, kita sebagai orang lokal tidak boleh memaksa mereka membeli batik. Mereka punya selera sendiri. Mungkin sama juga dengan Islam Nusantara, ada yang menolak unsur-unsur dari Islam Nusantara. Apalagi mengenai selera beragama tentu banyak yang tidak mau disamakan dengan satu bungkus saja. Sehingga sudah wajar kalau ada orang atau kelompok yang menolaknya.

Untuk masa depan Islam Nusantara, Greg berharap semakin lama semakin utuh dan matang dikembangkan di Indonesia, sekaligus ada pengaruh di luar Indonesia. Pengaruh itu bisa saja dimulai dari terjemahan buku-buku dan melalui tokoh-tokoh yang sudah berperan serta mempunyai teladan di pentas internasional.

Selain itu, Islam Nusantara harus didukung oleh sistem demokrasi. Kalau demokrasi kandas di Indonesia, pengaruhnya dan harapan untuk Islam Nusantara memberi sumbangan juga akan kandas. Pun dengan isu Islam rahmatan lil alamin, kalau diterapkan secara konkrit dan berwujud secara praktis, demokrasi merupakan salah satu yang menjadi unsurnya. Karena, sistem demokrasi itu saling menghormat pilihan orang lain, mengutamakan cara damai, menerima adanya kerjasama.

Wallahu A’lam.


Artikel ini telah terbit di: Islami.co dengan judul: Greg Barton dan Kain Batik