Gus Muwafiq Jelaskan Tugas Berat NU di Zaman yang Tak Jernih Lagi

Jakaerta - KH Ahmad MUwafiq menjelaskan ulama memiliki tugas berat, yaitu menjadi ujung tombak mendakwahkan Islam di zaman akhir. Tak hanya itu ulama berdakwah di waktu dan tempat yang sudah jauh dari sumber Islam, yaitu Rasulullah yang berada di Arab Saudi 14 abad yang lalu. 

“Jadi NU itu tidak mudah. Jadi NU itu, jadi Islam yang paling berat. Kenapa? karena i’tiqadnya menjadi muridnya ulama itu tidak mudah, apalagi membikin gerakan Nahdlatul Ulama. Itu adalah sesuatu yang sangat berat. Kenapa?” tanyanya saat berceramah di halaman Gedung PBNU, Jakarta, Selasa (25/12) malam. 

Menurut kiai yang akrab disapa Gus Muwafiq ini, karena meskipun jauh waktu dan tempat dari Rasulullah, ulama mesti menyampaikan ajaran Islam yang begitu jernih kepada orang-orang yang sudah tidak jernih lagi.

Baca Juga:  Masih Banyak Tokoh NU yang Terlupakan

Lebih lanjut, kiai yang tinggal di Yogyakarta ini mengatakan, ulama itu sebuah predikat yang diberikan Rasulullah kepada siapa pun yang menjadi ujung tombak yang membawa Islam. 

“Menjadi ulama apalagi sampai menyebut sebagai kebangkitan ulama itu, membangkitkan kesadaran, ujung tombak Islam yang sudah jauh dari Rasulullah.”  

Para ulama berbeda dengan generasi sahabat. Mereka pengikut Rasulullah yang berada di hulu sehingga mendapatkan ajaran Islam langsung dari sumbernya. Rasulullah sendiri mengatakan, bahwa generasi terbaik adalah para sahabatnya. 

“Yang ketemu Rasulullah ini adalah yang paling bagus mencontoh Rasulullah. Yang paling bagus ini, kalau sungai yang ada di hulu. Makanya ini generasi terbaik. 

Setelah Rasulullah wafat, sumber Islam berada pada generasi sahabat. Umat Islam mulai meraba-raba mengenai ajaran Islam. Para sahabat, untuk mengetahui ajaran Islam kemudian mengungkapkan ingatan dan pengalaman mereka bersama Rasulullah. 

Baca Juga:  Kenapa Orang Lari dari Islam?

“Dulu Rasul seperti apa; oh Rasul menyuruh begini; Oh Rasul melarang begini. Maka (di dalam hadits) ada amarana (memerintahkan) Rasulullah shallallahu ‘alaihi was salam. Ada nahana (melarang) rasulullah shallallahu ‘alaihi was salam. Ada kunna ma’a (berada bersama) Rasululllah shallallahu ‘alaihi was salam. Ada raitu (melihat) rasulullah shallallahu ‘alaihi was salam. Ada qala (berkata) Rasulullah shallallahu ‘alaihi was salam,” jelasnya. (Abdullah Alawi)


Artikel ini telah terbit di: Nu.or.id dengan judul: Gus Muwafiq Jelaskan Tugas Berat NU di Zaman yang Tak Jernih Lagi

Last Updated on by