Habib Luthfi: Ruhnya Sabar dan Syukur

Kesabaran mempunyai ruh, ruhnya sabar adalah mahabah (yaitu) karena cinta kepada baginda Nabi Saw. Ruhnya syukur tidak lain (juga) mahabah kepada baginda Nabi Saw. Contoh mudahnya (ialah) kalau kita bersyukur kepada Allah Swt disertai mahabah, maka pengalaman syukur tersebut pasti berbeda dengan orang yang hanya bersyukur tanpa disertai mahabah.

Maaf saja kalau ada seseorang sedang dimabuk cinta, manusia normal ingin dibuai, disayang dan disanjung oleh lawan jenisnya. Terkadang diapun mengharap pemberian berupa hadiah, dimana hadiah tersebut dijadikan sebagai tanda cintanya.

Hadiah yang diberikan misalnya berupa sebuah cincin imitasi yang batunya pun tidak asli, di pasar harganya sangat murah, tapi nilai mahabahnya itu menjadikannya semakin berharga, walaupun itu bentuknya imitasi tapi akan disimpan dan dijaga dengan baik, bahkan kalau hilang atau terselip di tempat lain, pasti dia akan mencarinya dengan penuh emosional. Karena apa? Ya karena keberadaan mahabah itu tadi.

Baca Juga:  Gus Dur Istikamah Mengamalkan Wirid al-Fatihah

Kita menyampaikan rasa terima kasih kepada Baginda Nabi Muhammad Saw, tentu harus disertai dengan rasa mahabah, sebagaimana kita mencintai Allah Swt juga didukung oleh mahabah, (demikian juga) sabar dan syukur yang dilengkapi dengan mahabbah.

Saat kita makan, terkadang kita mensyukuri kenikmatan itu dengan mengucapkan Alhamdulillah, yaa kita masih bisa makan dan itu hal biasa. Tapi, kalau rasa syukurnya dilengkapi dengan mahabah walaupun makanan kita hanya berupa nasi tanpa lauk pauk hati tetap senang. Karena apa? Ya karena keberadaan mahabah kepada yang Maha Memberi Rezeki. Jadi segalanya akan diterima dengan lapang dada dan rasa senang, itulah mahabah, kuncinya mahabbah disitu.

Contoh kecil saat kita disuguhi sambal yang cukup pedas, jelas itu tidak enak! tapi rasanya akan menjadi berbeda ketika sambal itu dibuat oleh seseorang yang kita cintai, walau sambal rasanya pedas tapi sangat nikmat. Karena apa? Karena rasa pedasnya terkalahkan oleh cinta kita kepada si pembuat sambal.

Baca Juga:  Inilah komentar empat imam mazhab mengenai thoriqoh Sufi

Masa kita kalah dengan orang yang bangga dengan si pemberi cincin imitasi, sedangkan yang Maha Memberi Cinta dan Maha Pemberi Rezeki memiliki sifat Hayyun daaimun baqiyun laa yamut, yang kami cintai itu tidak kenal mati, sedangkan selain-Nya kenal mati (dan) fana. Itu hebatnya mahabbah.

Kekuatan cinta yang telah Allah Swt anugerahkan kepada kita harus diaplikasikan dengan mahabah kepada Rasul Saw. Dan pada tataran selanjutnya diiringi pengenalan terhadap orang-orang yang dicintai Baginda Rasul Saw, lalu kita mencintai (mereka juga) dengan penuh mahabah dan syukur.

Sumber: Diambil dari ceramah Maulana Habib Luthfi bin Yahya saat Peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw di Shoping Street Center Citra Indah City, Cileungsi Kab. Bogor, Jawa Barat (9/12).

Oleh: Abdul Hady H


Artikel ini telah terbit di: Jatman.or.id dengan judul: Habib Luthfi: Ruhnya Sabar dan Syukur

Baca Juga:  Cara Gusdur Menyelesaiakan Papua

Last Updated on by