Habib Quraish Shihab: Inti dari Maulid

Dalam pekembangan memaknai dan merayakan maulid harus diakui ada yang positif dan ada yang negatif. Yang negatif kita tolak seperti di Mesir, ada acara nyanyian dan tarian yang tidak dibenarkan. Inti dari perayaan maulid Nabi itu sebenarnya adalah memperkenalkan Nabi Muhammad Saw, karena kalau anda tidak kenal anda tidak cinta. Karena itu menjadi wajib kita mengenal beliau.

Apa artinya kita bersyahadat? Anda berkata bahwa saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad Rasul (utusan Allah), kenal ndak anda Nabi Muhamamad? Saksi anda bisa (dinilai) bohong (karena) gak kenal beliau, maka kita ingin memperkenalkannya. Itu intinya sebenarnya, memperkenalkan beliau, bagaimana akhlak beliau.

Tetapi kalau sudah berlebihan, maaf saja saya sering mengkritik, (misalnya) bikin acara makan besar-besaran hingaa menghabiskan belasan atau puluhan juta Padahal lingkungannaya memerlukan poliklinik, memerlukan taman bacaan dan lain sebagainya. Itu jauh lebih baik daripada kita habiskan uang untuk merayakan maulid.

Baca Juga:  Masjid Syafii Iran: Harmonisasi di Tengah Perbedaan Mazhab

Apakah maulid itu bid’ah? Itu bisa kita pertemukan. Kalau kita berkata bahwa maulid itu ibadah murni, maka perayaan maulid  bukan ibadah murni, karena nabi tidak menganjurkan dalam bentuk ibadah murni. Tetapi kalau kita katakan maulid itu ibadah mendapat pahala orang yang memperingatinya, yang mengenalkan Nabi Muhammaad Saw. Jangankan membicarakan tentang kehebatan Nabi, tentang ajaran Nabi Saw. Maaf, maaf hubungan mesra antara suami istri itu dapat pahala apalagi ini (maulid). (Eep)

Sumber: Tausiyah Prof. Dr. M. Quraish Shihab, MA di Masjid Bayt Qur’an, Pondok Cabe, Tangerang Selatan, pada 09 November 2018.


Artikel ini telah terbit di: Jatman.or.id dengan judul: Habib Quraish Shihab: Inti dari Maulid

Baca Juga:  Soal Toleransi Beragama, Indonesia Baik-Baik Saja