Islam, Merry Christmas, dan Tahun Baru

Saya rasa umat manusia dari seluruh dunia tidak mengingkari watak alam yang bergerak dan berubah ini. Tapi, tidak semua manusia sanggup berlapang dada dan mengakui bahwa kedirian manusia sendiri juga berubah. Ketidaksanggupan inilah biang kerok dari permusuhan, kebencian, bahkan perang atas nama perbedaan iman dan agama.

Senyatanya, bila kita semua sanggup menerima kenyataan bahwa baik diri manusia maupun alam sama-sama bergerak dan berubah, niscaya hati kita jauh lebih sanggup menyambut perbedaan.

Tahun Baru sejatinya adalah momen spesial, penanda waktu, bahwa zaman berubah. Zaman yang berubah diiringi oleh perubahan pada alam, lingkungan, tubuh manusia, pikiran, pengalaman, bahkan yang sulit diditeksi: perasaan.

Memperingati Tahun Baru sama saja memperingati perubahan pada diri manusia dalam semua aspeknya. Jika seseorang sanggup menerima bahwa kenyataan hari ini adalah lapisan sejarah, potongan hidup, kelanjutan dari masa lalu, maka idealnya dia menerima bahwa keseluruhan adalah dirinya. Hanya saja, dia sedang menjalani hari ini, meninggalkan masa lalu, dan menanti datangnya hari esok.

Tahun Baru adalah pelajaran agar manusia berlapang dada melepas kepergian masa lalu, menjadi kenangan; menjalani hari ini sebagai kenyataan; dan mempersiapkan diri menyambut hari esok sebagai misteri.

Pergantian tahun bagaikan isyarat semesta, bahasa yang digunakan alam raya, untuk berbicara pada manusia. Detik, menit, jam, hari, pekan, bulan dan tahun adalah satuan waktu yang sekaligus makhluk Tuhan. Sebagai makhluk Tuhan, waktu adalah saudara kita, sahabat kita, keluarga kita. Waktu dan manusia dapat berbicara satu sama lain namun jarang orang yang melakukannya.

Salah satu yang hendak dibicarakan oleh waktu pada manusia adalah tentang perubahan dan gerak. Bukan saja perubahan dan gerak yang terjadi pada alam raya tetapi juga gerak dan perubahan yang menimpa setiap molekul pada tubuh fisik maupun setiap partikel dan energi pada mental manusia. Semuanya telah berubah, sedang menjalani perubahan, dan akan selalu berubah. Pertanyaannya, seberapa banyak manusia yang mendengarkan ujaran dan nasehat dari waktu semacam itu?

Mungkin saking bebalnya hati manusia, saking budeknya telinga manusia, saking butanya mata manusia, ujaran dan nasehat oleh waktu tentang gerak dan perubahan tidak pernah dihiraukan oleh manusia. Padahal, waktu telah menghamparkan sejarah, mempertontonkan peristiwa demi peristiwa, menghadirkan tokoh demi tokoh; namun semua itu seakan belumlah cukup. Belumlah cukup untuk memuaskan keyakinan manusia bahwa tahun demi tahun silih berganti; tahun lama telah pergi dan tahun baru telah tiba.

Sebagai contoh kecil saja. Waktu telah menghadirkan tiga sosok utama yang kita kenal sebagai Musa, Isa, dan Muhammad. Waktu juga menyuguhkan contoh bagaimana manusia pada jaman masing-masing tokoh besar tersebut bermain dengan kesadaran; umat Yahudi memanggil Musa sebagai Nabi bagi Bani Israel, umat Kristiani memanggil Isa sebagai Tuhan bagi semesta, dan umat muslim memanggil Muhammad sebagai utusan Allah.

Permainan kesadaran yang berbeda dan kadang tampak ekstrim bertentangan adalah keinginan waktu untuk menjelaskan bahwa gerak dan perubahan adalah keniscayaan.

Kata “kenicayaan” di sini hanya perspektif subjektif penulis, karena belum yakin bahwa semua orang menerima seruan agar kita percaya bahwa alam bergerak, manusia bergerak, dan karenanya apapun yang berada di bawah kolong langit ini bergerak dan berubah. Penulis masih pesimis bahwa semua orang mau berlapang dada dan menerima kenyataan bahwa tidak ada satu pun yang tetap dan tidak berubah.

Salah satu buktinya adalah filsafat waktu yang berbicara tentang siklus. Baginya, waktu itu berputar seperti siklus. Apa yang terjadi hari ini adalah “pengulangan” yang pernah terjadi di zaman lampau. Begitu pun, apa yang akan terjadi di hari esok adalah pengulangan dari apa yang terjadi hari ini. Mungkin secara kasat mata perdebatan dan argumen tentang waktu siklus ini tidak bermasalah. Padahal, bila kita renungi sedikit lebih kritis saja, inilah akar persoalan, konflik, kebencian, pembunuhan dan perang atas nama agama dan kebenaran.

Coba perhatikan, apa alasan umat yang hidup pasca Nabi Musa membunuh figur bernama Isa?

Tentu saja banyak alasan historis dan teologis yang bisa diajukan. Tetapi, kehadiran Isa membawa perubahan, dan gerak perubahan yang dibawa Isa menjadi momok menakutkan pada “orde lama”.

Kehadiran Isa di pentas sejarah adalah tanda pergantian tahun, di mana masa sebelumnya telah usai. Tahun baru telah datang, dan tahun baru itu adalah Isa beserta ajaran cinta kasihnya.

Sejarah lama sedang digoyang, dan sejarah baru sedang diperjuangkan. Begitulah kira-kira ilustrasi tentang masa-masa transisi dari eranya figur Musa ke eranya figur Isa. Masa-masa transisi adalah masa-masa berdarah, dan karenanya di awal saya bilang bahwa keniscayaan gerak dan perubahan tidak semua orang sanggup berlapang dada menyambutnya.

Yang paling mengerikan dalam sejarah manusia adalah Perang Salib yang menghadap-hadapkan umat Islam dan umat Kristen. Walaupun harus diakui bahwa kemunculan figur bernama Muhammad adalah ancaman bagi generasi lama yang dipegang oleh umat Kristiani.

Kehadiran Islam-Muhammad di hadapan Kristen-Isa sama persis seperti kehadiran Kristen-Isa di mata Yahudi-Musa. Suatu kehadiran era baru di hadapan era lama. Perang pun baik perang fisik maupun perang ideologi-teologi adalah representasi era baru dan era lama. Waktu di sini sedang berbicara pada manusia tentang gerak dan perubahan.

Gerak dan perubahan tersebut tidak semata ditandai dengan perkara-perkara makro tetapi juga persoalan-persoalan mikro. Waktu menyuguhkan detail-detail dalilnya secara mikro, supaya manusia bisa menangkap isyarat bahasanya. Umat Yahudi, umat Kristen, dan Umat Islam memiliki segudang alasan dan argumentasi untuk berbeda.

Mulai dari urusan teologi, syariat, ritual dan hukum, adat-istiadat, kebudayaan, bahkan soal sejarah, wilayah kekuasaan dan massa fanatik. Semua perkara-perkara detail yang berbeda semacam ini adalah bahasa waktu kepada manusia tentang kenyataan yang tidak bisa dielakkan. Yaktu, segala yang ada di bawah langit telah berubah.

Namun, di atas telah dikatakan, filsafat waktu siklus adalah biang kerok permusuhan, kebencian dan perang. Filsafat waktu siklus memungkinkan dan menyediakan jalan lempang bagi manusia untuk kembali ke masa lalu, menolak kenyataan hari ini atau esok. Atau, memeprtahankan hari ini dengan menolak masa lalu maupun masa depan. Atau juga, menolak kenyataan hari ini dan hari kemarin demi menyambut hari ini.

Setibanya di hari esok, dia kebingungan, apakah akan tetap mempertahankan pencapaiannya, yang sudah berubah status menjadi hari ini, atau tidak. Jika iya maka dia mengkhianati prinsip awal bahwa hari ini harus ditentang. Begitulah kira-kira problem filosofis yang mengatur nalar manusia.

Sederhananya begini, karena batin terdalam manusia bersifat egois dan menutup diri untuk tidak mendengarkan nasehat-nasehat waktu tentang gerak dan perubahan, maka egoisme tersebut menolak perubahan dan gerak. Umat Yahudi menolak umat Kristiani, umat Kristiani pada mulanya menolak umat Yahudi dan pada akhirnya juga Islam, dan umat Islam menolak umat Yahudi maupun Kristiani.

Masing-masing mulai terjebak pada potongan sejarah, terpenjara oleh lapisan waktu, dan terkotak-kotak oleh era atau zaman masing-masing. Padahal, waktu mengajarkan kehidupan yang mengalir terus-menerus.

Sebaliknya, berpegang teguh dan menerima nasehat waktu tentang gerak dan perubahan adalah satu-satunya jalan yang perlu kita coba. Dicoba bersama-sama. Sebab, seseorang tidak akan merasakan tanpa mencobanya sendiri. Transfer pengetahuan tidak sebegitu menyentuh dibanding transfer pengalaman. Yaitu, pengalaman mematuhi petuah dari waktu bahwa segala hal di bawah kolong langit pasti bergerak dan berubah. Sambutlah perubahan dan gerak abadi semesta itu. Tahun selalu baru, dan pasti akan selalu baru. Karenanya pula kita memperingati setiap pergantian tahun lama oleh tahun baru.

Merry Christmas atau Selamat Natal adalah momen memperingati sebuah kelahiran figur penting bernama Isa. Tetapi, Merry Christmas tidak sesempit itu. Kelahiran Isa layak dirayakan karena dia menjadi penada kelahiran era baru.

Setiap era baru lahir, setiap itu pula Merry Christmas layak kita rayakan. Tidak saja di bulan Desember, sepanjang bulan dalam satu tahun, selagi ada era baru yang lahir maka “merry cristmas” untuk kemanusiaan kita. Merry Christmas dengan huruf “M-C” kapital mungkin hanya milik tradisi umat Kristiani, tetapi “merry-christmas” dengan huruf “m-c” kecil adalah milik umat manusia.

Kata “Natal” dengan N Kapital adalah milik Kristiani, tapi “natal” dengan N Kecil adalah milik umat manusia. Natal dan Tahun Baru adalah dua yang berbeda tetapi memiliki esensi yang sama; perayaan atas kelahiran era baru.

Kelahiran era baru ini hanya bisa ditopang dengan kuat oleh nalar berpikir yang mengafirmasi tentang konsep waktu yang linear, bukan waktu yang siklus. Waktu Linear adalah waktu yang selalu menghadirkan kebaruan. Tidak ada satu pun di bawah langit yang tidak berubah. Semua berubah dan bergerak; bukan saja makro kosmos tetapi juga mikro kosmos, yaitu manusia sendiri.

Merayakan Merry-Christmas, merry-christmas, dan Tahun Baru selayaknya dimaknai sebagai bentuk afirmasi kita atas konsep waktu linear ini.

Islam mengafirmasi konsep waktu linear ini. Allah swt berfirman, “Setiap hal musnah kecuali Dia,” (Qosos: 88).

Hari kemarin telah musnah. Hari ini sebentar lagi akan musnah. Hari esok pasti musnah. Waktu pasti musnah. Hanya Tuhan yang Abadi. Bahkan, kata “abadi” dan makna “keabadian” tidak akan abadi. Apalagi cuma peristiwa sejarah dan semua permainan pikiran manusia, sudah pasti, semua itu akan musnah. Hilang kertaning bumi, begitu pepatah Jawa mengatakan: semua musnah ditelan bumi.

Karena itulah, sebagai umat Muslim, mengucapkan Merry Christmas dan Tahun Baru. Mari kita gunakan kesempatan kali ini untuk menyambut kebangkitan era baru; yaitu, suatu masa yang tidak dijangkiti oleh kebencian, permusuhan, perdebatan teologis, percekcokan historis, serta kebisingan-kebisingan yang datang dari masa lalu.

Ini hanya seruan moril saja, sebab filsafat waktu siklus dan spirit nostalgia akan masa lalu bukan perkara mudah ditaklukkan. Sebesar apapun cinta manusia pada terang, kehadiran gelap gulita yang menakutkan tidak mungkin dilenyapkan. Seberapa besar harapan manusia untuk menyambut kebangkitan era baru, kehadiran pasukan pembawa momok masa lalu tidak mungkin dikalahkan.

Karena itulah, marilah kita sambut Tahun Baru kali ini sembari mengucapkan “Merry-Christmas” (M-C Kapital) dengan tak lupa berharap datangnya “merry-christmas” (m-c kecil), yaitu, optimisme dengan penuh tawakal.

Baca juga tulisan menarik lainnya Imam Nawawi


Artikel ini telah terbit di: Alif.id dengan judul: Islam, Merry Christmas, dan Tahun Baru