Kayu Jati Masjid Nabawi Zaman Khalifah Ustman dari Nusantara?

Begi orang Nusantara, kayu Jati menempati ruang sendiri di kehidupannya. Bangunan-bangunan dan perabotan masa lalu umumnya menggunakan kayu jati. Tekstur dan seratnya yang halus menjadikan kayu jati mudah diolah dan dibentuk sehingga terlihat indah dan nyaman digunakan dan kuat sekaligus. Sampai sekarang pun, kayu jati masih menjadi bahan yang terus dicari orang. Bagaimana tidak, kayu Jati merupakan perpaduan fungsi, kekuatan, dan estetika yang sempurna.

Keistimewaan jati sebagai bahan bangunan ternyata terkenal sampai ke mancanegara. Bahkan, pada periode Usman bin Affan kayu Jati, yang dalam bahasa ilmiah disebut Tectona grandis, sudah digunakan untuk memperbaiki Masjid Nabawi.

Disebutkan dalam Shahih Bukhori hadis nomor 437 pada bab salat dan di Sunan Abu Dawud hadis nomor 451 menceritakan mengenai perkembangan masjid Nabawi. Hadis tersebut berbunyi yang artinya, “Bahwa masjid pada masa Rasulullah saw dibangun dengan bata, atapnya dengan pelepah kurma dan tiangnya adalah batang pohon kurma. Abu Bakar tidak menambahi apapun. Umar menambahkan dan membangunnya seperti masa Rasul, yakni dengan bata, pelepah kurma sebagai atap, dan tiangnya dengan batang pohon kurma. Kemudian Usman mengubahnya dan menambahkan banyak unsur. Usman membangun temboknya dengan batu ukir dan kapur, tiangnya dari batu ukir sedangkan atapnya dari kayu Jati.”

Kata Jati (as-saj) dalam teks tersebut menggunakan isim ma’rifat yang beralamat atau bertanda al jinsiyah. Dengan pemilihan kata tersebut menunjukkan pada arti umum tapi bermaksa khusus. Dalam hal ini ada tiga kemungkinan:

Baca Juga:  Rasulullah Pun ‘Mudik’ pada Bulan Ramadhan

Pertama, Jati tersebut adalah Jati khusus dengan jenis tertentu. Kedua, bisa dari daerah tertentu. Ketiga, bisa juga diartikan menggunakan Jati yang hanya itu, tidak ada lainnya.

Saya sendiri lebih sepakat pada arti kedua, yakni daerah tertentu. Alasannya karena kayu Jati yang digunakan bukan berasal dari kawasan Arab. Lalu, dari mana?

Imam Al-Qasthallany dalam kitab syarahnya (komentar) yang berjudul Irsyadus Sari ila Shohihi Al-Bukhori berpendapat bahwa kayu jati yang digunakan untuk membangun masjid Nabawi berasal dari “Hindi”. Pendapat serupa juga dikemukakan oleh Syeikh Badruddin Al-Aini dalam karyanya yang berjudul Umdatul Qori Syarah Shohih Bukhori juga mengatakan bahwa kayu jati yang digunakan berasal dari “Hindi”. Pertanyaan berikutnya adalah di mana daerah Hindi tersebut?

Banyak pendapat mengatakan bahwa kata “Hindi” tersebut merujuk ke India. Hal ini wajar karena India pernah menjadi pusat perdagangan di kawasan Asia sehingga banyak maskapai dagang memiliki kantor cabang di India, Gujarat dan lain sebagainya. Pertanyaannya adalah apakah India saat itu juga dikenal dengan India? Atau ada nama lain?

Rujukan ke India juga terkait dengan perkembangan Islam di India dan membentuk kerajaan. Selain itu, pengaruh Indianisasi yang terjadi di Asia, termasuk Indonesia (Nusantara)yang terjadi pada abad ke-4 M.

Pada masa itu, kawasan Asia Tenggara mulai mengadopsi sistim politik dari India. Satu artikel dari UK menarik karena mengulas indianisasi di Asia Tenggara. Menurutnya, pada abad-abad awal sampai abad ke-13 India memengaruhi hampir semua aspek kehidupan di Asia Tenggara.

Baca Juga:  Kisah Anak Kecil Tunanetra yang Menjadi Ulama Terkenal

Pendapat serupa juga diungkapkan oleh Smith (1999) yang berpendapat bahwa relasi antara India dan Asia Tenggara adalah relasi yang tidak seimbang, lebih tepatnya dikatakan sebagai dominasi atau pengaruh. India menjual produk olahan sedangkan bangsa Indonesia menjual hasil-hasil alam (Smith 1999). Namun perlu dicatat bahwa India saat itu belum bernama India, tetapi lebih dikenal dengan Bharat atau Hindustan.

Jauh sebelum bangsa Nusantara berinteraksi dengan India, bangsa Nusantara sudah ada kontak perdagangan antara Indonesia Mesir dan Arab. Banyak teks-teks klasik Arab sudah menyebut kepulauan yang ada di Indonesia. Namun, tidak semuanya tepat. Karya ahli geografi muslim, Al-Qazwini yang berjudul Atar al-bilad wa ahbar al-ibad memasukkan kota Fansur di India yang terkenal karena kampernya. Seiring dengan perkembangan alat ukur dan navigasi, ahli geografi Arab lebih memperinci informasi letak daerah penghasil kamper, dan menunjukkan di Pulau Sumatera (Stephan 2014; 262). Seorang ulama Aceh, Hamzah Fansuri juga pernah dikira berasal dari India, tetapi bukti terbaru beliau berasal dari Fansur (atau Barus) sekarang ini.

Kevonian (2014) melalui sumber yang berbeda juga mengindikasikan bahwa teks-teks klasik yang berbehasa Armenia beberapa menyebut kata hindi dan diartikan oleh sejarawan sebagai sebagai India. Menurutnya ada kemungkinan lain, yakni daerah Sumatera yang dikenal dengan bumi emas (Kevonian 2014; 16). Kevonian juga menjelaskan naskah berupa catatan yang tidak diketahui pengarangnya, namun tokohnya adalag Sulayman. Catatan dengan judul Ahbar as-Sin wa l-Hind (Informasi Mengenai As-sin dan Hindi) yang ditulis pada abad 851 M terdapat diskripsi mengenai “Pulau Lambri”. Pulau Lambri meliputi daerah-daerah yang lebih luas: “yang dikuasai banyak raja;…terdapat lombong-lombong emas dan lombong lain yang dinamakan fansur, tempat ditemukan kamper bermutu terbaik (Kevonian 2014;53). Pulau Ramni ini adalah lamur, satu daerah di Sumatera yang dekat dengan Barus.

Baca Juga:  Jam’iyah NU dan Sistem Sosial Masyarakat Kuno Nusantara

Furnivall (1939) membahas perekonomian Indonesia pada abad pertengahan. Kata “Indies” juga bisa merujuk ke Indonesia. Apa pasal?

Dunia perdagangan dan utamanya kolonial Belanda menyebut kepulauan di Indonesia dengan sebutan “Nederland East Indies” yang di Inggris dikenal dengan “Dutch East Indies”. Kata “Indies” digunakan oleh kolonial Belanda karena pertimbangan banyaknya pulau-pulau yang ada di Indonesia.

Van Leur dalam Indonesian Trade and Society (1955) pun sudah membahas penggunaan kata “Indies” untuk menyebut Indonesia. Dari kata “Indies” tersebut kemudian berkembang menjadi Hindia dan Indonesia. Robert Elson dalam The Idea of Indonesia juga membahas secara evolusi kesadaran menjadi Indonesia. Di situ, kata “Indies” atau Hindia dalam terjemahan Indonesianya digunakan untuk merujuk Nusantara.

Dengan dugaan ini, maka kemungkinan besar kata ‘Hindi” dalam hadis di atasmerujuk pada Indonesia atau Nusantara. Sehingga, jati yang digunakan untuk memperbaiki Masjid Nabawi berasal dari Nusantara.

Baca juga tulisan menarik lainnya Mohammad Fathi Royyani


Artikel ini telah terbit di: Alif.id dengan judul: Kayu Jati Masjid Nabawi Zaman Khalifah Ustman dari Nusantara?