Kecerdasan Digital dan Pemahaman Al-Quran Penting di Era Hoaks dan Hatespeech

Dunia digital telah mengubah segala sesuatu menjadi lebih cepat dan dekat. Berkat perkembangannya yang begitu pesat, masyarakat mendapat peluang dan harapan besar atau big hope berupa profit dan keuntungan yang menggiurkan. Namun seperti kita juga tahu, ada dampak negatif dari era digital yang juga menjadi ancaman bagi masyarakat. Antara lain menyebarluasnya kabar bohong atau lebih dikenal dengan hoax, hate speech (ujaran kebencian), ketergantungan games, pornografi dan lain sebagainya.

Maka perlu perencanaan yang matang dalam memanfaatkan era teknologi informasi. Kecerdasan digital perlu disebarluaskan demi menangkal dampak negatif dari dunia digital. Selain revolusi industri dalam menghadapi kemajuan dunia yang memanfaatkan digital, maka revolusi digital dinilai perlu hadir dan berjalan beriringan dengan revolusi industri.

Menyikapi hal ini, Chairus Sabri, Ketua Yayasan Sakola DQ Institute, menekankan pentingnya memiliki kecerdasan digital di era saat ini. Bukan hanya cerdas atau pandai menggunakan gawai, tapi juga cerdas memahami cara pandang digital.

“Kita, para pengguna media sosial terutama, harus memiliki beberapa kecerdasan digital itu sendiri. Nalar kritis di era digital itu, kita perlu berpikir sekian kali sebelum menyebarluaskan suatu hal. Karena jika tidak demikian, kita tidak tahu dampak buruk yang akan menimpa seseorang atau suatu kelompok dan masyarakat akibat informasi yang kita sebar tanpa pikir panjang,” papar Chairus Sabri dalam diskusi bertema “Revolusi Digital; Paradoks Kecerdasan Digital” yang difasilitasi eCOMM (Etalase Community), bertempat di Aula Putri PMII cabang Ciputat, Sabtu (15/12/2018).

Hadir pula dalam sebagai pemateri diskusi ini, Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Tangerang Selatan Paradigma Baru Miss Farha Dhiba, Witjaksono Abadiman selaku Pengusaha Transportasi Laut, dan ustadz Badawi selaku tokoh agama dan masyarakat Kota Tangerang Selatan.

Dalam kesempatan ini, Witjaksono Abadiman mengajak para pengguna media sosial untuk tidak latah dan reaktif. Tidak buru-buru menyebarkan informasi yang diterima. Tapi harus kreatif.

Menyinggung dari sisi agama, ustadz Baidawi menyebut ada kolerasi antara upaya menangkal ujaran kebencian ini dengan apa yang disebut dalam Al-Qur’an surat al-Hujurat ayat 12.

“Di surat Al-Hujurat ayat 12 ini kita diperintahkan untuk menjauhi pransangka. Karena prasangka-prasangka itu nantinya dapat menyebar, bukan hanya sekadar sebagai prasangka negatif tapi berubah menjadi berita-berita kebohongan, berubah lagi menjadi fitnah. Padahal kita yakini dan percaya bahwa fitnah lebih kejam dari membunuh. Di samping itu dalam Islam juga diajarkan larangan terhadap perbuatan ghibah atau membicarakan keburukan orang lain, yang dosanya dinyatakan lebih besar daripada zina,” ujar Ustadz Baidawi.

Ustadz Badawi, saat ini fintah tidak hanya dari mulut, tapi sekarang bisa dari jempol bisa jadi fitnah. Karena itu dalam segala hal kita dituntut untuk mengedepankan akhlak atau moral. Moral itu itu lebih utama daripada ilmu. Banyak orang berilmu tapi tidak bermoral maka makin hancur jadinya.

Dengan situasi dan kondisi perkembangan dunia digital yang ada, kata ustadz Baidawi, setiap orang hendaknya memperhatikan empat hal. Pertama, tawasuthiyah, bagaimana kita memposisikan diri menjadi orang yang moderat. Kedua, tawazun yaitu harus berimabang. Ketiga tasamuh atau toleransi dan keempat adalah ta’adul atau keadilan, yang merupakan pola integral dari tawassuth, tasamuh, dan tawazun

Sementara itu Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Tangerang Selatan Paradigma Baru Miss Farha Dhiba lebih banyak mengulas bagaimana para hadirin yang hadir, yang sebagian besar adalah mahasiswa, untuk mampu memanfaatkan era digital ini sebagai peluang untuk memeratakan ekonomi, khususnya di wilayah Tangsel. Ia mengajak agar mahasiswa untuk turut membantu memasarkan produk-produk UMKM di wilayah terdekat dengan mahasiswa. Diharapkan, selain meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Tangsel, hal ini juga bisa menjadi sarana untuk mahasiswa bisa hidup mandiri sejak dini.

Diskusi ini sendiri merupakan upaya dari eCOMM sebagai komunitas berbasis Sociopreneurship (Social Impact Investment) yang berupaya menggandeng komunitas untuk menginvestasikan modal dalam bentuk manfaat sosial. Apria Roles Saputro, Founder of eCOMM, mengharapkan diskusi ini dapat membantu tingkat literasi digital di masyarakat. Sehingga masyarakat dapat memahami bagaimana informasi dalam bentuk digital dapat dipertanggungjawabkan, informasi dapat dimanfaatkan dan pemahaman masyarakat meningkat.[]


Artikel ini telah terbit di: Islami.co dengan judul: Kecerdasan Digital dan Pemahaman Al-Quran Penting di Era Hoaks dan Hatespeech