Kisah Syaikh Abul Hasan Asy Syadzili Wali Kaya Raya yang tidak Cinta Dunia

Nahdliyin.id – Hubbud dunya atau cinta dunia merupakan salah satu penyakit hati. Selama ini hubbud dunya selalu diidentikkan dengan orang kaya sementara orang miskin dianggap tidak terkena penyakit ini.

Karena sifatnya penyakit hati, maka sifat ini bisa menghinggapi siapa saja, baik orang kaya maupun mereka yang miskin. Kiai Said Aqil Siroj dalam tausiyah menjelang berbuka pada acara buka bersama Muslimat NU, Sabtu (20/6) menuturkan kisah Syeikh Abu Hasal As Syadili, salah satu waliyullah yang memiliki harta banyak tetapi tidak cinta dunia. Hartanya digunakan untuk jalan agama.

Hasan As Syadili merupakan ulama yang lahir di Tunisia dan meninggal di Mesir. Karyanya yang masih diamalkan oleh banyak warga NU adalah Hizb Nasr. Ia memiliki murid sekitar 6000 yang semuanya ditanggung kebutuhan hidupnya.

Baca Juga:  Sugeng Milad Al Habib Muhammad Luthfi Bin Yahya

Gaya hidup Syeikh Hasan As Syadili juga sangat mewah untuk ukuran waktu itu. Ia selalu berganti pakaian baru setiap hari, memakai minyak wangi mahal dan mengendarai kereta yang ditarik dua ekor kuda besar.

Suatu hari ada santri dari Tunisia yang akan bersilaturrahmi dengannya. Setelah menempuh perjalanan jauh sampailah di Mesir dan terkejutlah ia ketika melihat rumah Syeikh Hasan yang besar dan gaya hidupnya yang mewah. Pembantunya saja 16 orang. Tidak sesuai dengan gambarannya sebagai seorang wali yang menjalani hidup sederhana apa adanya. “Wali kok hidupnya mewah banget,” begitulah pikirnya dalam hati.

Akhirnya tujuannya untuk bertemu dengan Syeikh Hasan As Syadili tercapai. Dalam dialog Syeikh Hasan berpesan kepadanya, “Sampaikan kepada gurumu, sampai kapan hubbud dunya terus.”

Baca Juga:  Mulai dari Mendamaikan Diri Sendiri

Ia terkejut dengan perkataan tersebut karena gurunya tidak memiliki harta sama sekali. Bantal saja tidak punya, sementara Syeikh Hasan bergaya hidup mewah.

Akhirnya setelah hajatnya untuk bertemu dengan ulama besar tersebut terpenuhi, ia kembali ke Tunisia. Sesampai di rumah, ia ditanyai oleh gurunya. Ada pesan apa dari Syeikh Hasan kepadanya. Pertama, si santri tidak mengaku tetapi setelah didesak terus, disampaikan pesan yang dikatakan oleh Syeikh Hasan tersebut sampai kapan gurunya hubbud dunya.

Mendengar pesan tersebut gurunya langsung menangis. “Benar apa yang dikatakan Syeikh Hasan As Syadili. Dia kaya, banyak harta, kendaraanya bagus, rumahnya bagus, tetapi dunia tidak pernah dipikiri. Tidak masuk hatinya. Saya ini miskin, tetapi yang dipikiri dunia terus.”

Baca Juga:  Karomah K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) saat Ramadhan

Wali lain yang memiliki harta banyak adalah Syeikh Abdul Qadir Al Jaelani. Ia menyumbangkan hartanya untuk kepentingan masyarakat. Salah satu sumbangannya kepada masyarakat yang sekarang masih terlihat adalah sebidang tanah wakaf di Mesir yang sekarang menjadi sebuah kawasan hunian bagi kelompok fakir miskin.

Kiai Said mengingatkan pentingnya Muslim kuat dalam segala hal, mulai ilmu, harga, kesehatan, kebudayaan dan lainnya. Ia menunjukkan sebuah desa di Pemalang yag semua penduduknya pindah agama karena kemiskinan. Nama-nama penduduk Solihin, Ahmad, Dullah dan lainnya menunjukkan mereka berasal dari keluarga Islam, tetapi pindah karena kelaparan dan kemiskinan.

“Kita harus kuat dalam segala hal. Kita pinter, beradab dan berbudaya, Allah tidak ridho jika melihat umat Islam miskin dan bodoh.”