Maulid itu Membanggakan Rasul SAW, Bukan Pasangan Pilpres

Jika sebelumnya, telah terjadi ceramah maulid provokatif, menjelek-jelekkan satu pasangan dan mengampanyekan pasangan yang lain di Bekasi, kali ini ceramah yang sama juga terjadi di kota yang sama. Malah, ceramah maulid yang diisi kampanye tersebut dilakukan oleh orang nomer satu di MUI DKI Jakarta, KH. Munahar Mukhtar beberapa hari yang lalu.

Dari salam pertama hingga terakhir, ia selalu mengait-ngaitkan pasangan pilpres tertentu. Ia bahkan harus menambah salamnya menjadi dua kali, agar sesuai dengan pasangan pilpres pilihannya.

“Saya salam dua kali, biar tidak satu,” begitulah kira-kira penuturannya.

Ia kemudian mulai membahas kisah Nabi Nuh yang mengangkut hewan di bumi secara berpasangan, yakni dua-dua. Ia melanjutkan bahwa Nabi Nuh saja memilih dua hewan untuk dibawa ke bahteranya, bukan satu-satu. Ia bahkan mengaku sebal jika ada yang merekam dan menyebarkan ceramah maulid kampanyenya ke publik.

Begini pak ustadz, saya sebagai penulis juga sebal jika ada penceramah maulid bukan membanggakan Rasul SAW, malah membanggakan pasangan pilpres. Bukan hanya saya, banyak juga yang sebal dengan penceramah maulid sekarang.

Saat saya mencoba untuk meminta pendapat beberapa orang, banyak yang mengalami hal serupa, yakni mendapatkan ceramah yang ujungnya kampanye pasangan pilpres tertentu dan menjelek-jelekkan pasangan yang lain, bahkan ada beberapa orang yang tidak tahan hingga undur diri dari peringatan maulid tersebut.

Memangnya, yang anda peringati itu maulid Rasul atau maulid pasangan Pilpres, sih?

Peringatan maulid itu seharusnya menjadi sarana kita untuk menyegarkan hati dari iri, dengki, dan perpecahan dengan meneladani akhlak Rasul SAW yang mulia.

Biasanya hal seperti ini bisa terjadi karena beberapa hal. Pertama, memang penceramahnya yang ndableg, tidak bisa membedakan mana tempat kampanye dan mana tempat mengkaji akhlak Rasul, atau bisa jadi ia sudah beranggapan bahwa akhlak Rasul SAW sudah tercermin dalam diri pasangan calon yang didukungnya.

Jika memang Anda menemui penceramah yang memiliki model seperti ini, ada baiknya Anda mempertimbangkan untuk tidak mengundangnya di kesempatan berikutnya. Penceramah seperti ini susah move on, apalagi jika Paslon yang didukung kalah, Anda pasti tahu tema-tema ceramahnya selanjutnya. hehe..

Jika Anda hanya sebagai pendengar, ada baiknya Anda undur diri dari majelis dan berdoa agar diberikan tempat pengajian yang ramah dan khidmat.

Kedua, pihak takmirnya yang sengaja mengundang penceramah tersebut karena merasa memiliki kesamaan pilihan Paslon. Takmir seperti ini, biasanya ingin semua kegiatan masjidnya topiknya kampanye, bahkan WAG (Whatsapp grup) yang seharusnya diisi kajian Islam pun, jadi ajang kampanye Paslon.

Jika terjadi hal yang kedua ini, Anda bisa sampaikan teguran kepada pihak takmir, tentunya dengan teguran yang baik. Namun jika takmirnya malah marah-marah dan keadaan semakin panas, maka lebih baik Anda mengalah dan undur diri. Anda boleh bertahan di majelis itu, jika memang mental Anda sekuat baja.

Jika Anda menjadi dewan masjid atau apapun yang memiliki kekuasaan untuk mengevaluasi kepengurusan takmir, ada baiknya diseleksi terlebih dahulu sebelum memilih takmir.

Selain itu, lakukan juga pembinaan yang baik kepada remaja masjid. Jangan sampai semangat keagamaan remaja masjid yang meningkat, tidak disertai dengan peningkatan wawasan keilmuan dan asal pilih ustadz favorit.

Wallahu A’lam.


Artikel ini telah terbit di: Islami.co dengan judul: Maulid itu Membanggakan Rasul SAW, Bukan Pasangan Pilpres