Multi Level Strategy Dibahas PMII STAIMA Banjar

Nahdliyin.id, Banjar – Produk kaderisasi PMII yang telah terskema dengan sistematis dan konseptual, ternyata tak cukup untuk dibahas hanya sekali saja. Hal itu karena formulasi dan model kaderisasi PMII yang ada di setiap lokalnya memiliki kultur, budaya dan tantangan yang berbeda.

Semua itu harus menyesuaikan dengan kondisi lingkungan dan tipologi karakter mahasiswa di setiap kampus tertentu. Dari membangun citra diri organisasi, menguraikan permasalahan, analisis kebijakan, diskusi, pertarungan perebutan kader, ruang-ruang strategis, hingga pertarungan gagasan.

  

Berangkat dari kompleksitas kondisi tersebut, Pengurus Komisariat STAIMA Kota Banjar, Jawa Barat menggelar Diskusi Bedah Multi Level Strategi PMII.Kegiatan yang dilaksanakan setelah pelantikan ini berlangsung di Gedung NU Kota Banjar, Ahad (11/03).

Baca Juga:  Cak Imin Bandingkan Tradisi Berserban di NU dengan FPI

Diskusi menghadirkan narasumber, Zaini Abdul Hamid. Pria yang juga mantan Ketua Komisariat, dan kini duduk di Pengurus Besar PMII, mememaparkan apa yang terkandung dalam isi multi level strategy. Menurutnya, multi level strategy (MLS) sebenarnya hanya formulasi kaderisasi atau acuan kaderisasi.

Dewasa ini yang sering terjadi adalah semangat militansi dan loyalitas kader yang terkesan semu dan tak terarah, karena belum maksimalnya transformasi dan nilai-nilai PMII pada kader.

“Saya sangat mengapresiasi dengan diadakannya diskusi MLS ini. Namanya kaderisasi dan organisasi, yang terus bergulir tidak ada hentinya, harus memahami acuannya, dari mulai produk hukum PMII, sampai pada MLS buah hasil PB PMII pada zamannya,” ungkap Zaini, kader terbaik PMII Banjar.

Baca Juga:  Muslimah Berhijab Ini Tantang Putin di Pemilu Rusia

Sebagaimana dalam MLS, Zaini mengatakan, ada lima argumentasi, mengapa ada kaderisasi di PMII.

Pertama, kata Zaini, pewarisan nilai-nilai (Argumentasi Idealis).

“Artinya, kaderisasi ada sebagai pewarisan nilai-nilai luhur yang harus difahami, dihayati dan diacu oleh PMII,” katanya.

Kedua, pemberdayaan anggota (Argumentasi Strategis).

“Artinya, kaderisasi merupakan media untuk menemukan dan mengasah potensi-potensi individu anggota dan kader yang masih terpendam,” ujarnya.

Ketiga, memperbanyak anggota (Argumentasi Praktis).

“Tak aneh memang jika inti dari kaderisasi adalah melakukan perekrutan untuk kemudian meningkatkan kuantitas dan kualitas anggota dan kader. Karena salah satu indikator keberhasilan organisasi adalah sejauh mana mampu memperbanyak kader,” tandasnya.

Keempat, persaingan antarkelompok (Argumentasi Pragmatis).

Baca Juga:  Full Day Sarungan, Simbol Perlawanan Kaum Pesantren

“Hukum alam yang berlaku di tengah masyarakat adalah kompetisi. Kita memahami sudah ada kompetitor kita di kampus. Maka, PMII menempa kadernya untuk menjadi lebih baik daripada organisasi yang lain.

Argumentasi yang terakhir, adalah mandat organisasi (ArgumentasiAadministratif).

“Artinya, regenerasi merupakan bagian mutlak dalam organisasi, dan regenerasi hanya mungkin terjadi melalui kaderisasi yang semuanya merupakan mandat organisasi,” pungkasnya. (Azmi/Kendi Setiawan)

Sumber: Nu.or.id