Perubahan Pola Fikir Zaman Now, Tantangan Jamiyyah NU

Nahdliyin.id, Bandarlampung – Tantangan semakin berat dihadapi oleh Jamiyyah Nahdlatul Ulama milenial ini. Menjelang satu abad Jamiyyah Nahdlatul Ulama pada 2026 permasalahan tidak hanya terkait dengan keorganisasian dan struktural NU, namun juga kultural NU yang merupakan kekuatan Jamiyyah.

Hal ini diutarakan Wakil Sekjend PBNU M. Aqil Irham, Kamis (2/11) menanggapi kondisi perkembangan informasi dan teknologi terutama di media sosial telah memengaruhi tingkah laku dan pola pikir masyarakat

Menurutnya perkembangan teknologi khususnya internet dan sosial media menyumbang pengaruh besar terhadap perubahan sudut pandang masyarakat dalam memahami dan mengamalkan ajaran-ajaran agama.

“Saat ini berbagai riset dan survey menunjukkan bahwa otoritas kiai dan ulama yang sohih sanad keilmuannya, masih kalah populer di mata ummat Islam dibanding dengan ustad-ustad muda dan ustad yang melek sosmed,” ujarnya.

Hal ini tentunya sangat menghawatirkan tidak saja bagi NU namun juga bagi Ormas keagamaan mainstream lainnya di Indonesia. Diperlukan perhatian tersendiri dalam rangka membentengi ummat dari belajar agama secara instan.

“Basis dakwah di level bawah seperti masjid, surau dan majelis taklim sudah mulai diisi oleh ustad-ustad lain” tambahnya.

Apalagi saat ini keberadaan pesantren juga tidak lagi menjadi otoritas satu-satunya yang melekat dengan NU.

“Saat ini tumbuh bagai jamur musim hujan, pesantren-pesantren yang ‘beda’ dengan tradisi Nahdhiyin. Boarding school ala pesantren modern juga makin mengambil hati umat Islam kelas menengah, begitupan pesantren mahasiswa di sekitar kampus umum,” katanya.

Melihat fenomena ini lanjutnya, Ia menilai perlunya inovasi oleh para Santri milenial dalam berdakwah. “Kita harus melakukan inovasi sistem pembelajaran, pendidikan dan pengajaran. Inovasi model dan gerakan dakwahnya. Alumni santri milenial harus tahu tren perubahan ini,” ajaknya.

Ia berharap jangan sampai metode dakwah yang dilakukan seperti kegiatan olahraga menggunakan alat treadmill.

“Kelihatannya jalan bahkan berlari, namun tetap jalan di tempat,” ujarnya.

Jika ini dibiarkan begitu saja tentunya pergeseran nilai akan berpengaruh dalam jamiyyah NU yang didirikan oleh para ulama sejak 1926. Kekuatan dari sisi kultural merupakan kekayaan dan kekuatan dalam Jamiyyah NU sehingga setiap pengurus dan warga NU harus bahu membahu mempertahankan ini. (Muhammad Faizin/Kendi Setiawan).

Sumber: Nu.or.id

About Nahdliyin Online 788 Articles
Moderator