Selaksa Nikmat di Balik Perintah Nikah

Nahdliyin.id, Surabaya – Banyak hikmah yang bisa dipetik dari perintah agama agar menikah. Namun demikian, sejumlah hal perlu diperhatikan agar tujuan dari perintah tersebut dapat diraih dengan sempurna.

“Nikah itu merupakan hal istimewa, peristiwa besar sehingga dalam Al-Quran disebut sebagai ayat,” kata KH Zakariyah, Kamis (1/3) malam sembari menyitir ayat ke-21 di surat Ar-Rum.

Dalam pandangan Dekan Fakultas Pendidikan Agama Islam di Institut Agama Islam Al-Khozini Sidoarjo tersebut, keberadaan pasangan merupakan anugerah atau ayat Allah. “Karena itu suami maupun istri adalah ayat Allah,” katanya saat memberikan mauidhah di sebuah walimatun nikah di Surabaya.

“Kalau kita sudah tahu bahwa pasangan adalah termasuk di antara ayat Allah, karenanya yang harus dilakukan adalah saling menjaga,” tandasnya. Keberadaan pasangan adalah ayat Allah yakni ayat kauniyah, lanjutnya.

Sedangkan lanjutan dari ayat tersebut bahwa hakikat rumah tangga adalah membentuk ketenangan. “Untuk dapat membuat tenang, makanya istri harus bisa menaklukkan hasrat suami, dan pada saat yang sama, suami juga dapat menyalurkan hasratnya,” tandas Koordinator Kepala Sekolah di Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet Mojokerto ini.

Agar mampu sampai kepada sebuah keluarga yang tenang, suami maupun istri harus bisa menyelami kebutuhan masing-masing. “Bagaimana caranya agar suami dapat tunduk kepada istri, demikian pula istri merasa aman dan tenang ketika berada bersama sang suami,” urainya.

Dalam keseharian, seorang istri hendaknya dapat menyambut dan melayani suami dengan baik. “Pulang kerja hendaknya berpakaian yang enak dipandang, bukan dengan penampilan apa adanya,” terang disambut tawa hadirin.

Nikmat berikutnya adalah kasih sayang yang ditunjukkan dengan indahnya perilaku. “Cantik dan ganteng itu ada batasnya. Namun yang lebih abadi adalah rahmat atau kasih sayang,” katanya.

Berikutnya adalah bahwa antara pasangan harus saling menutupi dan menghangatkan. “Baik suami maupun istri harus bisa menutup aib masing-masing dan membelanya, sebagaimana fungsi pakaian,” ujarnya.

Istri jangan hanya seperti microwave yang berfungsi menghangatkan makanan. “Juga menghangatkan suasana, sehingga rumah tangga lebih indah dan nikmat,” katanya.

Dan uraian Kiai Zakariyah dipungkasi dengan penjelasan bahwa hidup di dunia ada batasnya. “Karena itu kita butuh aliran pahala yang antara lain didapat dari keturunan atau anak,” pungkasnya. (Ibnu Nawawi)

Sumber: Nu.or.id

About Nahdliyin Online 788 Articles
Moderator

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.