Apa Itu Wara' dan Sikap Wara'

Pengertian Maqom wara’
Dalam risalah al-qusyairiyah banyak membahastentang makam wara’ beserta pandangan atau rumusan para sufi tentang hal ini. Wara’ adalah meninggalkan hal yang syubhat: tarku syubhat yakni menjauhi atau meninggalkan segala hal yang belum jelas haram dan halalnya.Abu bakar as-shiddiq mengatakan “Kami tinggalkan tujuh puluh pintu menuju yang halal lantaran takut jatuh pada satu pintu menuju haram”.Wara’ memang salah-satu sendi etika islam yang sangat penting, oleh karena itu nabi bersabda yang artinya “Ibadah itu sepuluh suku, Sembilan dari padanya dalam mencari halal”. Jadi Sembilan persepuluh dari ibadah adalah mencari halal.Pada hadist lain nabi bersabda yang artinya “hendaknya kamu menjalankan laku wara’, agar kamu jadi ahli ibadah”. Laku hidup wara’ memang penting bagi perkembangan mentalitas ke-islaman, apalagi bagi tasawuf.
Dalam tasawuf wara’ merupakan langkah kedua sesudah taubat, dan disamping merupakan pembinaan mentalitas (akhlak) juga merukan tangga awal untuk membersihkan hati dari ikatan keduniaan.Wara’ itu ada dua tingkat, wara’ segi lahir yaitu hendaklah kamu tidak bergerak terkecuali untuk ibadah kepada Alloh. Dan wara’ batin, yakni agartidak masuk dalam hatimu terkecuali Alloh ta’ala.
Wara’ adalah meninggalkan setiap yang berbau syubhat dan meninggalkan apa yang tidak perlu, yaitu meninggalkan apa yang tidak perlu, yaitu meninggalkan berbagai macam kesenangan.
Prinsip dasar wara’ adalah sifat yang berisi kehati-hatian yang luar biasa dan tidak adanya keberanian untuk mendekati sesuatu yang bersifat haram, termasuk juga hal-hal yang sifatnya ragu-ragu atau subhat.
Dan dalam hal ini, Nabi Saw bersabda:
“Sesungguhnya yang halal dan yang haram itu jelas.
Dan di antara keduanya banyak hal-hal syubhat yang kebanyakan orang tidak mengetahuinya. Barangsiapa
yang menjaga diri dari hal-hal yang syubhat maka ia telah membersihkan agama dan kehormatannya.
Wara’ membawa ketenangan hati
Imam al-Bukhari ra mengutip perkataan Hasan bin Abu Sinan ra: ‘Tidak ada sesuatu yang lebih mudah dari pada sifat wara’: “Tinggalkanlah sesuatu yang meragukanmu kepada sesuatu yang tidak meragukanmu. Begitu juga terhadap hal dimana hati
mengingkarinya sesuai Ibnu ‘Asakir ra:“Sesuatu yang diingkari hatimu, maka tinggalkanlah .
Terkait dengan gerak hati ini, Nabi Saw bersabda:
“Kebaikan adalah sesuatu yang jiwa merasa tenang dan hati merasa tenteram kepadanya, sedangkan
dosa adalah sesuatu yang jiwa tidak merasa tenang dan hati tidak merasa tenteram kepadanya, sekalipun orang-orang memberikan berbagai komentar kepadamu.
Orang-orang yang memiliki kedudukan yang tinggi selalu bersikap preventif dengan berhati-hati dari sebagian yang halal yang bisa membawa kepada sesuatu yang makruh atau haram.
Diriwayatkan dari Rasulullah, beliau bersabda:
“Seorang hamba tidak bisa mencapai derajat taqwa sehingga ia meninggalkan yang tidak dilarang karena khawatir dari sesuatu yang dilarang.”
Sifat wara’ dan keutamaan menjaga lisan Sifat wara’ juga menyangkut hubungan mu’amalah, utamanya soal lisan.
Ishaq bin Khalaf ra memandang
sikap wara` dalam ucapan lebih utama daripada sikap wara` dalam hubungan yang berkaitan dengan harta, di mana dia berkata: ‘Wara’ dalam tuturan kata lebih utama daripada emas dan perak.
Di antara renungan Ibnu al-Qayyim ra dalam hadits-hadits Rasulullah, dia menyatakan bahwa sesungguhnya: ‘Rasulullah mengumpulkan semua sifat wara’ dalam satu kata, maka beliau bersabda:
“Termasuk tanda baik keislaman seseorang, ia meninggalkan hal-hal yang tidak penting baginya.”
Sifat wara’ menjadikan diri selalu terjaga Dan di antara hasil yang nampak bagi sikap wara’ bahwa ia memelihara pelakunya dari terjerumus (dalam hal yang dilarang), karena itulah engkau
menemukan: Barangsiapa yang melakukan yang dilarang, ia menjadi gelap hati karena tidak ada cahaya wara’, maka ia terjerumus dalam hal yang haram, kendati ia tidak memilih untuk terjerumus padanya.
Seperti yang dikatakan oleh Ibnu Hajar ra dan’Aisyah ra berkata tentang Zainab ra, di mana ia menjaga pendengaran dan penglihatannya dari terjerumus dalam perkara yang ia tidak mengetahui: ‘Maka Allah menjaganya dengan sifat wara’.
Maka dengan demikian wara’ merupakan :
kedudukan ibadah yang tertinggi:”Jadilah orang yang wara’ niscaya engkau menjadi manusia
paling beribadah.” Dan agama yang paling utama adalah sikap wara’:” Sebaik-baik agamamu adalah sikap wara’ “
Wallahu a’lam
Sumber dari Islam Center http://www.islam-center.net

About Nahdliyin Online 807 Articles
Moderator