Ketika Tasikmalaya Jadi Pusat Media Islam

Nahdliyin.id – SALAH satu hal yang tidak akan kita sangka sekarang ini adalah Tasikmalaya pernah memainkan peran penting yang terpaut erat dengan pertumbuhan dan perkembangan pers di tanah air. Menurut Miftahul Falah (Sejarah Kota Tasikmalaya, 1820-1942, 2010), dalam kurun waktu 1920-1942, surat kabar yang terbit di Kota Tasikmalaya berjumlah sekitar 18 buah, baik yang menggunakan bahasa Sunda maupun bahasa Indonesia.

Dalam kurun yang sama, surat kabar dan majalah yang terbit di Jawa Baratberjumlah sekitar 66 buah atau sekitar 27% pers Indonesia di Jawa Barat. Dari 18 surat kabar tersebut, 14 di antaranya dicetak di Tasikmalaya oleh GaloenggoengDjoendjoenanSoekapoera, dan Pemandangan. Sementara itu, sisanya dicetak di luar Tasikmalaya.
Dalam kurun antara 1920-1930, yang terbit adalah Langlajang DomasSipatahoenan, dan Pekabaran. Dua media yang awal diterbitkan dalam bahasa Sunda, yang satu lagi dalam bahasa Indonesia. Kemudian antara 1930-1935, yang terbit adalah Kawan KitaKsatrya Poetra, dan Bidjaksana. Selanjutnya pada 1935-1940, terbit enam surat kabar, yakni IchtiarTawekalTimbanganBalakaToembal, dan Lembana. Memasuki 1940-1942, selain Tawekal dan Toembal yang masih terbit, ada dua surat kabar lagi yang diterbitkan di Tasikmalaya, yaitu Pera Ekspres dan Pertjatoeran.
Selain surat kabar, Miftahul Falah menyatakan bahwa di Tasikmalaya juga hadir media berbentuk majalah. Menurut dia, berbeda dengan surat kabar, majalah yang terbit di Tasikmalaya dikelola oleh organisasi dan pada umumnya bercorak keagamaan. Dalam hal ini, Miftahul Falah menyatakan keberadaan Al-Mawidz dan Al-ImtisalAl-Mawidz diterbitkan oleh Nahdlatul Ulama (NU) cabang Tasikmalaya pada Agustus 1933, sementara Al-Imtisalditerbitkan oleh Persatuan Guru Ngaji (PGN) di bawah perlindungan Bupati Tasikmalaya RAA Wiratanoeningrat.
Namun, di luar penelusuran Miftahul Falah, ternyata masih banyak lagi majalah bernuansa agama Islam yang diterbitkan di Tasikmalaya. Hal ini dapat kita lacak dari kesaksian sezaman yang dapat kita baca, antara lain, dari koran Sipatahoenan dan majalah Al-Imtisal.
Pertama, mengenai kesaksian Kota Tasikmalaya sebagai semacam pusat penyiaran media bernuansa keislaman yang saya peroleh dari koran Sipatahoenanedisi 15 Maret 1934. Dalam pemberitaan mengenai kehadiran majalah Al-Idhar, di situ termaktub demikian: ”Kota Tasik geus kakotjap sapedah pabalatak Al-Alna: Al-Imtisal, Al-Moechtar, Al-Mansoer, Al-Mawaidz enz. Ajeuna geus rek poetjoenghoel deui soerat kabar Al-Idhar. Kaloearna di Tjiawi, dikamoedi koe Kiai Hatomi + H Mh Enoh. Bedjana ieu Al teh aja dina panangtajoenganana pagoejoeban Idharoe biatil … enz”.
Kata-kata ”kakotjap sapedah pabalatak Al-Alna” dengan jelas mengisyaratkan betapa banyaknya media Islam yang diterbitkan di Tasikmalaya. Pada awal tahun 1934 itu saja di sana disebutkan adanya majalah Al-ImtisalAl-MoechtarAl-MansoerAl-Mawaidz ditambah dengan kata ”enz” dari bahasa Belanda yang berarti ”lain-lain”. Nah, kata ”enz” tersebut dengan jelas menyatakan mengenai pertumbuhan dan perkembangan permajalahan Islam yang ada di Tasikmalaya itu begitu dinamis dan bertambah seiring dengan berjalannya waktu.
Dalam pemberitaan Sipatahoenan edisi 26 Januari 1935, kita bisa melihat bukti perkembangan tersebut. Dalam koran edisi awal tahun 1935 tersebut kita dapat membaca keterangan sebagai berikut: ”Edaaas, geus aja opat ‘Al’: Al Imtisal, Al Mochtar, Al Mansoer djeung Al Mawaidz, ajeuna geus boelan-alaeun deui bae, Al anjar, noe baris ngaganti Al Idhar, kagoengan Adjengan Hoetomi, noe geus intjah ti alam pawenangan – soerat kabarna soteh – nja eta Al I’tisom”.
Dari keterangan tersebut, kita jadi tahu bahwa majalah Al-Idhar, tidak lama terbitnya. Bila dihitung dari pemberitaan Sipatahoenan di atas, Al-Idhar hanya terbit sekitar sepuluh bulan saja dan digantikan penerbitannya oleh Al I’tisom.
Toggle navigation
Ketika Tasikmalaya Jadi Pusat Media Islam
SALAH satu hal yang tidak akan kita sangka sekarang ini adalah Tasikmalaya pernah memainkan peran penting yang terpaut erat dengan pertumbuhan dan perkembangan pers di tanah air. Menurut Miftahul Falah (Sejarah Kota Tasikmalaya, 1820-1942, 2010), dalam kurun waktu 1920-1942, surat kabar yang terbit di Kota Tasikmalaya berjumlah sekitar 18 buah, baik yang menggunakan bahasa Sunda maupun bahasa Indonesia.
Dalam kurun yang sama, surat kabar dan majalah yang terbit di Jawa Baratberjumlah sekitar 66 buah atau sekitar 27% pers Indonesia di Jawa Barat. Dari 18 surat kabar tersebut, 14 di antaranya dicetak di Tasikmalaya oleh GaloenggoengDjoendjoenanSoekapoera, dan Pemandangan. Sementara itu, sisanya dicetak di luar Tasikmalaya.
Dalam kurun antara 1920-1930, yang terbit adalah Langlajang DomasSipatahoenan, dan Pekabaran. Dua media yang awal diterbitkan dalam bahasa Sunda, yang satu lagi dalam bahasa Indonesia. Kemudian antara 1930-1935, yang terbit adalah Kawan KitaKsatrya Poetra, dan Bidjaksana. Selanjutnya pada 1935-1940, terbit enam surat kabar, yakni IchtiarTawekalTimbanganBalakaToembal, dan Lembana. Memasuki 1940-1942, selain Tawekal dan Toembal yang masih terbit, ada dua surat kabar lagi yang diterbitkan di Tasikmalaya, yaitu Pera Ekspres dan Pertjatoeran.
Selain surat kabar, Miftahul Falah menyatakan bahwa di Tasikmalaya juga hadir media berbentuk majalah. Menurut dia, berbeda dengan surat kabar, majalah yang terbit di Tasikmalaya dikelola oleh organisasi dan pada umumnya bercorak keagamaan. Dalam hal ini, Miftahul Falah menyatakan keberadaan Al-Mawidz dan Al-ImtisalAl-Mawidz diterbitkan oleh Nahdlatul Ulama (NU) cabang Tasikmalaya pada Agustus 1933, sementara Al-Imtisalditerbitkan oleh Persatuan Guru Ngaji (PGN) di bawah perlindungan Bupati Tasikmalaya RAA Wiratanoeningrat.
Namun, di luar penelusuran Miftahul Falah, ternyata masih banyak lagi majalah bernuansa agama Islam yang diterbitkan di Tasikmalaya. Hal ini dapat kita lacak dari kesaksian sezaman yang dapat kita baca, antara lain, dari koran Sipatahoenan dan majalah Al-Imtisal.
Pertama, mengenai kesaksian Kota Tasikmalaya sebagai semacam pusat penyiaran media bernuansa keislaman yang saya peroleh dari koran Sipatahoenanedisi 15 Maret 1934. Dalam pemberitaan mengenai kehadiran majalah Al-Idhar, di situ termaktub demikian: ”Kota Tasik geus kakotjap sapedah pabalatak Al-Alna: Al-Imtisal, Al-Moechtar, Al-Mansoer, Al-Mawaidz enz. Ajeuna geus rek poetjoenghoel deui soerat kabar Al-Idhar. Kaloearna di Tjiawi, dikamoedi koe Kiai Hatomi + H Mh Enoh. Bedjana ieu Al teh aja dina panangtajoenganana pagoejoeban Idharoe biatil … enz”.
Kata-kata ”kakotjap sapedah pabalatak Al-Alna” dengan jelas mengisyaratkan betapa banyaknya media Islam yang diterbitkan di Tasikmalaya. Pada awal tahun 1934 itu saja di sana disebutkan adanya majalah Al-ImtisalAl-MoechtarAl-MansoerAl-Mawaidz ditambah dengan kata ”enz” dari bahasa Belanda yang berarti ”lain-lain”. Nah, kata ”enz” tersebut dengan jelas menyatakan mengenai pertumbuhan dan perkembangan permajalahan Islam yang ada di Tasikmalaya itu begitu dinamis dan bertambah seiring dengan berjalannya waktu.
Dalam pemberitaan Sipatahoenan edisi 26 Januari 1935, kita bisa melihat bukti perkembangan tersebut. Dalam koran edisi awal tahun 1935 tersebut kita dapat membaca keterangan sebagai berikut: ”Edaaas, geus aja opat ‘Al’: Al Imtisal, Al Mochtar, Al Mansoer djeung Al Mawaidz, ajeuna geus boelan-alaeun deui bae, Al anjar, noe baris ngaganti Al Idhar, kagoengan Adjengan Hoetomi, noe geus intjah ti alam pawenangan – soerat kabarna soteh – nja eta Al I’tisom”.
Dari keterangan tersebut, kita jadi tahu bahwa majalah Al-Idhar, tidak lama terbitnya. Bila dihitung dari pemberitaan Sipatahoenan di atas, Al-Idhar hanya terbit sekitar sepuluh bulan saja dan digantikan penerbitannya oleh Al I’tisom.
Ada iklan
Sumber pertumbuhan dan perkembangan media keislaman di Tasikmalaya tersebut, bukan hanya Sipatahoenan, karena misalnya dua tahun setelah pemberitaan mengenai kehadiran Al I’tisom, Al-Imtisal No 13, 1 Mei 1937, menyatakan mengenai kehadiran satu media lagi. Dalam jilid belakang dalam edisi Al-Imtisal tersebut, ada iklan mengenai majalah Al-Bisjarah.
Di situ tertulis: ”Al-Bisjarah. Eta teh djenengan hidji serat kabar basa Soenda, anoe kaloear sasasih sakali, kandelna 32 pagina. Eusina woengkoel Doengeng-dongeng Zaman Djahilijah (Zaman Patrah) samemeh djoemeneng Nabi Moehammad saw. Ajeuna kaloear nomer hidjina. Pangaos langganan 3 sasih f 040. Pangaos sadjilid f 015. Artos ngintoen ti pajoen. Adres, Adm Al-Bisjarah, Koedang-Pasantren, Tasikmalaja”.
Dari iklan di atas, kita jadi tahu bahwa di samping majalah Islam berbahasa Sunda yang pada umumnya mempunyai rubrikasi yang berbeda-beda, ternyata ada Al-Bisjarah, media yang mengkhususkan isinya pada kisah-kisah, sehingga dapat dikatakan majalah kisah Islam dalam bahasa Sunda. Selain itu, paling tidak, majalah Al-Bisjarah bisa disimpulkan peratama terbit pada bulan April 1937, sebab pada terbitan Al-Imtisal bulan Maret dan April 1937 belum ada iklannya, sementara sejak Mei 1937 hingga bulan-bulan selanjutnya bisa dikatakan Al-Bisjarah selalu diiklankan dalam Al-Imtisal.
Dengan demikian, tidak sebagaimana yang dinyatakan oleh Miftahul Falah yang hanya menyebutkan dua majalah, di Tasikmalaya antara tahun 1920-an hingga tahun 1940-an, paling tidak telah hadir media-media Al-ImtisalAl-MoechtarAl-MansoerAl-MawaidzAl-IdharAl I’tisom, dan Al-Bisjarah. Ini juga tidak menutup kemungkinan ada majalah bernuansa Islam lagi yang diterbitkan di Kota Tasikmalaya.
Dengan demikian pula, memang bisa dikatakan, sebaimana yang dinyatakan oleh Miftahul Falah pula bahwa Tasikmalaya memainkan peran besar dalam percaturan penerbitan pers di Jawa Barat. Barangkali bisa dianggap melebihi 27% dari pers yang diterbitkan di Jawa Barat kala itu. Bisa mencapai 30% atau lebih dari itu. 

Sumber: Pikiran Rakyat

About Nahdliyin Online 788 Articles
Moderator

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.