Patuhilah Setiap Nasihat Bijak

Ada banyak orang yang bereaksi negatif dengan cara membantah atau menolak dengan satu atau lebih alasan saat mendengar suatu nasihat yang benar, baik, dan bermanfaat dari ahlinya. Padahal penolakan tersebut dapat mengakibatkan kerugian yang nyata pada dirinya.

Tetapi itulah dorongan hawa nafsu angkuhnya, menolak apa yang benar dan tidak jarang justru merendahkan pemberi saran, atau penasihat yang tulus. Benarlah suatu ungkapan, “jika mau ada seribu jalan dan jika tak mau ada seribu alasan”.

Saat orang bijak yang memilih hidup sederhana memberikan nasihat akan pentingnya bekerja secara halal, mencari penghidupan yang halal, makan minum yang halal, dan mengambil atau memberikan yang halal misalnya, maka dengan ringan dan tanpa merasa bersalah banyak orang yang dengan ekspresi wajah sinisnya menjawab, “Sekarang ini cari yang haram saja sulit, apalagi diminta cari yang halal!”. Jawaban seperti ini sudah seringkali kita dengar dan dianggap sebagai jawaban yang wajar-wajar saja dan dinilai masuk akal, apalagi jika situasi ekonomi seseorang lagi sulit.

Padahal jawaban penolakan seperti ini berakibat sangat buruk bagi kehidupannya di dunia dan akhirat. Karena menjerumuskan dirinya untuk hidup dalam ketamakan dengan menghalalkan segala macam cara. Halal haram hantam, dan tiada peduli apakah merugikan orang/pihak lain atau tidak.

Tidak seperti di desa-desa di mana orang-orang lugu hidup sederhana, “nrimo ing pandum” (menerima seberapa pun yang Tuhan berikan) yang berpikir sederhana, “makan apa hari ini?”. Berbeda dengan saat orang-orang kota berpendidikan tinggi dengan sederet gelar akademisnya, di depan dan di belakang namanya, ada banyak yang culas dan selalu berpikir, “makan siapa hari ini?”.

Begitulah kehidupan manusia, ada yang hatinya lunak dan wataknya mudah menerima nasihat dan apa saja yang bermanfaat. Tetapi sebaliknya ada yang hatinya keras laksana batu atau lebih keras lagi serta tidak gampang ditembus oleh cahaya petunjuk.

Yang saya sebut terakhir ini, betapa pun diingatkan berulang kali, tetap saja ia membandel, mengulangi lagi, dan tak pernah jera menghadapi akibat-akibat buruk yang menimpanya, serta tidak peduli pada terampasnya hak-hak orang lain.

Gambaran kehidupan yang semakin hari semakin individual atau nafsi-nafsi. Tak peduli pada orang lain, yang penting dirinya untung dan masa bodoh saat orang lain buntung. Padahal ada peribahasa, “Sekali lancung di ujian seumur hidup orang tak percaya”.

Orang yang tak mau mendengar dan tidak mengikuti nasihat bijak pada hakikatnya adalah manusia egois yang tidak mampu untuk hidup lebih berkualitas dan tak bisa diharapkan untuk berperan menebarkan manfaat bagi orang lain.

Oleh: Ahmad Ishomuddin
Penulis adalah Rais Syuriyah PBNU

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.