Ketika Ulama Berbeda Pendapat dengan Sesama Ulama

Regional

Bandung – Berbeda pendapat adalah hal yang lumrah, termasuk di kalangan para ulama. Ulama empat mazhab misalnya, mereka memiliki perbedaan dalam menentukan hukum. Pasalnya ada perbedaan pemahaman di antara mereka. Namun, perbedaan di antara mereka berdsarakan argumentasi kuat. Ada istilah perbedaan pendapat di antara para ulama merupakan rahmat.

Namun, jangan sampai, perbedaan di antara para ulama, menyebabkan pertengkaran di antara pengikutnya, apalagi sesama ulama itu sendiri. Para ulama imam mazhab mencontohkan sikap mereka dengan ulama yang lain, yaitu saling menghormati. Bahkan saling berguru.

“Jadi begini, perbedaan boleh, asal jangan bertengkar. Asal jangan bertengkar. Semuanya dalam rangka untuk mencari kebenaran,” ungkap Rais Majelis Ilmi Pimpinan Pusat Jam’iyyatul Qurra wal Huffazh Nahdlatul Ulama (JQHNU) KH Ahsin Sakho Muhammad di Karawang, di sela Kongres JQHNU, 15 Juli.

Imam Abu Hanifah tidak Qunut Subuh sementara Imam Syafi’i melakukannya. Hal itu terjadi karena cara penetapan hukum (istinbatnya) berbeda. Di saat yang sama, tidak ada teks yang qath’i melarang atau menyuruh qunut. Berarti di situ memungkinkan ijtihad.

“Bisa jadi, yang satu sudah mendapatkan hadits, yang satu belum mendapatkannya, atau datang hadits, tapi cara pemahamannya berbeda. Misalnya istihsan, Imam Syafi’i tidak menerima, sementara Abu Hanifah menerima. Banyaklah. Ini ada di dalam ushul fiqih,” lanjutnya.

Bagi para pengikutnya, cara-cara penetapan hukum yang demikian itu harus dipelajari agar tidak sampai orang menyalahkan pengikut ulama lain.

Namun, ia memberikan catatan, perbedaan yang rahmat di antara para ulama itu masih dalam koridor ketentuan hukum yang sudah pasti.

“Tidak setiap perbedaan diterima, kecuali perbedaan yang bisa diterima, alasan yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Contohnya seperti orang yang bersentuhan kulit orang dengan muhrimnya. Bersentuhan kulit, kata Imam Syafi’i batal, kalau Abu Hanifah enggak apa-apa. Kata Imam Malik, batal kalau ada syahwat, berbeda-beda. Dalilnya apa? Ya cara memahami. Abu Hanifah mengatakan, Nabi pernah mencium istrinya menuju shalat tanpa wudlu lagi, berbeda. Ya seperti itulah,” jelasnya.

Yang penting bagi para pengikut ulama hari ini, sambungnya, jangan sampai gampang menyalahkan orang lain. Apalagi mengkafirkannya. Apalagi memusyrikkannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *