Terkait Ustadz Karbitan, LDNU Jombang : Ilmu yang Dangkal Cenderung Menyesatkan

Regional

Jombang – Ketua Pengurus Cabang (PC) Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Jombang Aang Fatihul Islam menegaskan, para ustadz yang tengah naik daun perlu berhati-hati dalam menafsirkan Al-Qur’an agar tidak meresahkan bahkan menyesatkan masyarakat.

Perihal ini menurut pandangannya, tak hanya Evie Effendi yang belakangan diketahui menafsirkan Al-Qur’an dengan tidak tepat, namun beberapa ustadz sebelumnya juga melakukan hal yang serupa. Bahkan menurutnya, tidak menutup kemungkinan masih akan muncul sejumlah ustadz yang demikian.

Evie Effendi sempat viral saat mengatakan memperingati maulid Nabi Muhammad seolah memeringati sesatnya Nabi Muhammad. Karena menurutnya, Nabi Muhammad dilahirkan dalam keadaan sesat.

“Pertanyaannya kemudian yang sesat ini Nabi Muhammad ataukah cara ia berfikir yang sesat?,” jelasnya sembari bertanya-tanya, Ahad (12/8).

Fenomena ini terjadi akibat adanya kesalahan penafsiran Al-Qur’an yang hanya melihat dari terjemahan tanpa melihat konteksnya, sehingga terjadilah peyimpangan cara berfikir. “Sebenarnya penyimpangan semacam ini sudah pernah digambarkan sejak zaman Rasulullah SAW dulu,” jelasnya.

Di samping itu, imbuhnya, kesesatan pemahaman ini terjadi karena kedangkalan pemahaman atau dalam istilahnya ta’wil yang dilakukan oleh orang-orang yang dangkal ilmunya/bodoh (ta’wil al-jahilin) yang menafsirkan Al-Qur’an dengan penafsiran yang salah.

Ia kemudian mengutip ceramahnya Evie yang mengacu pada QS Ad-Dhuha ayat 7 ‘ووجدك ضالافهدى (wawajadaka dhollan fahadaa) dengan serta merta mengatakan bahwa kata dhallan dalam ayat tersebut diartikan sebagai sesat oleh sang ustaz. Ayat tersebut diterjemahkan menjadi “ketika Allah mendapatimu dalam keadaan sesat lalu Allah memberimu petunjuk”.

“Terjemah semacam ini berbeda dengan terjemahan Kemenag “Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk”. Tentu menerjemahkan kata dhall dalam konteks surat ini sebagai sesat amat sangat berbahaya,” ungkapnya.

Dosen di STKIP PGRI Jombang ini menambahkan, dari beberapa kitab tafsir (Tafsir At-thabari, Tafsir Fi Zhilalil Qur’an, dan tafsir Ibnu Katsir) tidak ada satupun yang menyatakan bahwa kata ‘dhallan’ marujuk pada kesesatan Nabi Muhammad SAW.

“Bahkan tidak ada ulama yang mengatakan Nabi Muhammad itu lahir dalam keadaan sesat,” tuturnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *