Tiga Ulama Sufi yang Kaya Raya

Dunia sufi seringkali diidentikkan dengan menjauhi dunia, berdiam diri di gunung atau laut, berpakaian jelek, atau meninggalkan harta dunia sepenuhnya. Bahkan, ada yang meninggalkan keluarganya begitu saja. Tentu saja hal ini salah. Tapi mengapa ada pemahaman kehidupan sufi identik dengan meninggalkan pernak-pernik duniawiah?

Salah satu jawabannya adalah akibat ketidakpahaman akan makna zuhud yang sesungguhnya. Imam Ghazali menerangkan dalam “Bab Zuhud” di Ihya’ Ulumiddin bahwa zuhud pada hakikatnya adalah sikap tidak bergantung kepada dunia. Bukan sikap meninggalkan dunia sepenuhnya. Zuhud adalah mengendalikan dunia dan tidak dikendalikan oleh dunia.

Dengan pemaham zuhud seperti ini, maka tidak heran jika ada beberapa sufi yang kaya dan hidup dalam kenyamanan duniawi. Meskipun demikian mereka tidak pernah lalai akan kewajibannya sebagai manusia yang diamanati harta: menggunakan secukupnya dan menyedekahkan sisanya. Berikut adalah beberapa nama ulama tasawuf masyhur yang diberi anugerah rizki oleh Allah SWT.

Abdullah bin Mubarak

Bagi orang yang biasa menggeluti dunia tasawuf atau kajian tentang akhlak Islam, maka nama ini tidak akan asing di telinganya. Beliau adalah salah satu ulama salaf (hidup sebelum abad ketiga hijrah) yang masyhur karena ilmu, akhlak, dan kebijaksanaannya. Kalam hikmahnya menghiasi buku-buku semacam Ihya’ Ulumiddin, Qutul Qulub, dan lain-lain.

Sebelum membahas kekayaan beliau, ada baiknya digambarkan derajat keulamaan beliau lebih dulu. Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah (10/178) mengisahkan bahwa suatu hari beliau datang ke kota Raqqa yang di situ terdapat istana Harun Al-Rasyid.

Orang-orang seluruh kota berkumpul untuk bisa bertemu beliau dan tabarrukan (meminta berkah). Selir Harun yang ada di atas istana melihat kerumunan itu dan bertanya kenapa orang-orang berkerumun. Lalu salah seorang pengawal menjawab bahwa seorang ulama besar bernama Abdullah bin Mubarok berkunjung ke kota ini.

“Itulah raja yang sesungguhnya,” ujar selir Harun, “tidak seperti Raja Harun yang membuat kerumunan menggunakan pedang dan tongkat.”
Beliau lahir dari keluarga pebisnis. Ayahnya pedagang dari Turki dan ibunya berasal dari Khwarizma. Mengenai rizkinya yang melimpah, Ibnu Katsir menceritakan bahwa aset tetap beliau (ra’sul mal) berjumlah sekitar empat ratus ribu yang mana semuanya itu beliau investasikan ke beberapa daerah. Sayang sekali Ibnu Katsir tidak menjelaskan apakah angka ini dalam mata uang dinar (emas) atau dirham (perak). Tapi andaikan dirham pun jumlah ini tetap banyak.

Namun meskipun demikian beliau adalah pribadi yang sangat dermawan. Jika musim haji hampir tiba, beliau selalu bertkata kepada kawan-kawannya, “Siapa yang hendak berhaji datangilah aku. Akan kuberi uang sebagai bekal.”

Di hari-hari tertentu beliau akan menghampar meja makan dan mengisinya dengan makanan-makanan lezat. Lalu beliau akan membiarkan rombongan haji, orang miskin, atau musafir untuk ramai-ramai menyantapnya. Padahal beliau sendiri selalu berpuasa hingga meninggal.

Setiap tahun hasil laba bisnis beliau berjumlah seratus ribu, dan itu semua beliau sedekahkan untuk para ulama, ahli ibadah, dan lain-lain. Itulah, sosok sufi Abdullah bin Mubarak.

Syekh Abdul Qadir Jailani

Sepengetahuan penulis, tidak ada seorang ulama setelah abad lima hijriah dan abad-abad selanjutnya yang disepakati keagungannya oleh seluruh sekte Islam Sunni, kecuali Syekh Abdul Qodir Al-Jailani, Imam Nawawi, dan Ibnu Hajar Asqalan. Khusus untuk Syekh Abdul Qodir, beliau adalah guru hampir semua ulama yang hidup di masanya. Ratusan ribu bajingan, bromocorah, dan penganut sekte menyimpang berhasil taubat di tangan beliau.

Selain sebagai tokoh sufi, beliau juga tidak diragukan kualitas keilmuannya. Buktinya adalah salah satu murid beliau yang bernama Ibnu Qudamah. Ibnu Qudamah adalah pengarang al-Mughni, sebuah kitab fikih antar-mazhab yang masyhur itu.

Dalam biografi beliau karangan Dr. Abdur Rozzaq al-Kailani dikisahkan bahwa pada usia remaja beliau berangkat ke kota Bagdad untuk menuntut ilmu dengan membawa bekal secukupnya. Ketika beliau sampai di sana, orang-orang sedang ramai membincangkan Imam Ghazali yang sedang mengalami krisis intelektual. Tahun itu (488 H) adalah tahun di mana Imam Ghazali mengasingkan diri dan pergi berkelana.

Di Bagdad, Abdul Qadir muda kehabisan bekal dan akhirnya bekerja sebagai kuli angkut untuk melanjutkan kehidupannya. Guru beliau dalam ilmu syariat bernama Abu Sa’d al-Makhromi, seorang alim dari Bagdad di masanya. Sedangkan guru tasawufnya bernama Hamad ad-Dabbas.

Ketika gurunya, Abu Sa’d, meninggal beliau langsung dipercaya memegang madrasah. Dari situ ketenaran beliau sebagai ulama, pendakwah, dan wali agung mulai masyhur. Di masa itu para ulama dan pengabdi ilmu mendapatkan jatah harta wakaf dari perkebunan-perkebunan.

Syekh Abdul Qadir yang menjadi guru seluruh orang Bagdad secara otomatis akan mendapatkan rizki yang sebenarnya tak pernah beliau harapkan itu. Namun tetaplah rizki itu mengejar beliau dan beliau pun menjadi guru sufi yang kaya (Dr Abdur Rozzaq hlm 135).

Abu Hasan Al-Syadzili

Sama seperti Syekh Abdul Qodir, beliau adalah guru sufi pemimpin tarekat. Tarekat itu bernama Syadziliyah. Sedikit berbeda dengan sufi lain yang berpakaian sebagaimana umumnya, beliau hanya mau memakai pakaian yang bagus. Beliau selalu ingin tampil sempurna.

Selain guru sufi, beliau juga seorang ulama syariat yang masyhur. Izzuddin bin Abdus Salam dan Ibnu Daqiq al-‘Id adalah beberapa ulama syariat yang aktif mengikuti kajian tarekat beliau. Kedua ulama ini mengagumi dan terpesona dengan ajaran Abu Hasan. Namun sayangnya Abu Hasan tidak pernah mengarang kitab. Ketika di tanya tentang hal ini beliau berkata, “Kitabku adalah muridku.” Dan memang murid beliau banyak mewarisi ajaran beliau seperti Abu Abbas al-Mursi, serta muridnya yakni Ibnu Athaillah.

Sebagaimana ulama lain di atas, Abu Hasan dikenal sebagai ulama sufi yang kaya. Bahkan muncul anggapan orang awam tentang tarekat bahwa tarekat yang paling mudah adalah Syadziliyah karena tarekat ini memperbolehkan hidup kaya. Entah benar atau tidak namun faktanya tidak sedikit yang beranggapan demikian.

Abu Hasan memperoleh kekayaannya karena beliau memiliki usaha di bidang perkebunan. Hal ini bisa diketahui dalam ucapan beliau kepada teman-teman beliau ketika beliau ketinggalan dari rombongan perjalanan yang hendak berangkat.

“Maaf, aku terlambat karena aku harus melihat perkebunanku yang sedang ditanam di tiga tempat.”
Mengenai ini Abdul Halim Mahmud dalam Al-Madrasah Al-Syadziliyah halaman 72 berkomentar, “Tanah beliau bukan satu atau dua faddan (per faddan sekitar 4200 meter persegi). Tapi lebih dari itu beliau berkata ‘tiga tempat’.” Dari sini bisa disimpulkan bahwa perkebunan beliau sudah jelas lebih dari dua belas ribu meter persegi.

Namun demikian, beliau—serta semua ulama kaya di atas—adalah sosok yang dermawannya tidak tertandingi. Beliau mendapat dunia karena memang beliau mendapatkan itu; bukan mengejar itu. Wallahu a’lam.
Sumber: Alif.id

About Nahdliyin Online 1205 Articles
Moderator