Riwayat Gus Dur Nyantri di Tambakberas (1959 -1963)

Semua orang tahu bahwa Gus Dur adalah sosok pembelajar yang luar biasa dan unik. Banyak yang meyakini Gus Dur itu memiliki ilmu laduni, ilmu yang didapat dari anugerah Allah tanpa melalui proses belajar sebagaimana umumnya. Sepenggal jejak perjalanan proses belajar Gus Dur itu terekam di Pesantren Tambakberas Jombang.

Setelah menyelesaikan mondok di pesantren Tegalrejo Magelang, pengembaraan keilmuan Gus Dur dilanjutkan ke Pesantren Tambakberas pada 1959 -1963. Di Tambakberas ini Gus Dur tidak merasa asing karena para kiai pengasuh pesantren ini masih terhitung keluarga dekatnya.

Kiai Wahab Hasbullah yang menjadi sesepuh Pesantren Tambakberas masih terhitung kakeknya, tepatnya paman dari ibunya. Jadi belajar di Tambakberas bagi Gus Dur serasa pulang kampung dirumah saudara-saudaranya sendiri.

Adalah Kiai Fattah Hasyim dan istri, Nyai Musyarofah Bisri (adik kandung Nyai Sholihah Bisri, ibu Gus Dur) salah satu kiai di Pesantren Tambakberas yang merawat Gus Dur selama mondok di Tambakberas. Gus Dur yang tinggal di Asrama Pangeran Diponegoro kamar 3 (Pangdip-3) selain mengaji kepada para kiai pengasuh Pesantren Tambakberas, juga mengaji di hadapan Kiai Fattah, pamannya sendiri itu.

Gus Dur mengaji kitab hadis Shahih Bukhari dan Shahih Muslim yang dibaca Kiai Fattah di masjid. Menurut cerita teman-teman mondoknya, Gus Dur bukanlah sosok santri yang rajin ngaji tetapi kecerdasannya tidak tertandingi. Ketika waktunya ngaji Gus Dur berangkat mengikuti pengajian cuma sebentar saja, kemudian tanpa sepengetahuan Kiai Fattah yang mengampu pengajian itu, beliau meninggalkan majlis pengajian untuk pergi entah ke mana.

Kadang beliau pergi ke Tebuireng dengan naik sepeda onthel sejauh 10 km atau pergi entah ke mana yang teman-temannya tidak tahu. Mereka hanya dititipi kitab yang ditinggal di majlis pengajian itu dalam posisi kitab itu sengaja terbuka. Tidak ada yang tahu kenapa kitab itu ditinggalnya dalam keadaan terbuka seperti itu. Gus Dur juga sempat ngaji kitab Asbah wa An Nadhair, kitab yang mengkaji kaidah-kaidah fikih dan Kitab Iqna’ yang mengkaji ilmu fikih pada Kiai Abdul Malik Hamid.

Beliau juga ngaji privat kepada pamannya itu kitab hadis Bulughul Maram. Menariknya, pengajian privat ini dilaksanakan pada tengah malam, diatas jam 1 dini hari. Dan sebelum pengajian itu dimulai, Kiai Fattah selalu mengajak keponakannya itu bermain catur. Setelah jam menunjukkan pukul 1 dini hari dimulailah pengajian itu meskipun kadang permainan catur belum selesai.

Ketika permainan catur itu belum selesai dan waktu ngaji sudah datang, maka papan catur dengan bidak-bidaknya dalam posisi utuh saat permainan terakhir itu disimpan oleh Kiai Fattah dan ditaruh di atas lemari untuk dilanjutkan besok malam pada saat menjelang pengajian privat itu dilaksanakan.

Dengan nada bercanda, Kiai Fattah selalu mengatakan: Dur, kamu gak mungkin bisa mengalahkan saya (dalam bermain catur ini). Begitulah model unik Kiai Fattah saat memprivat ngaji kitab kuning kepada Gus Dur.

Di luar pengajian kitab kuning yang rutin diadakan di pesantren, Gus Dur juga ikut belajar di madrasah Muallimin. Selama belajar di Madrasah ini Gus Dur selalu menulis sendiri kitab yang akan dipelajarinya di kelas. Jadi kitab-kitab yang akan dikaji bersama gurunya itu adalah kitab tulisan tangannya sendiri yang kemudian dimaknani dengan makna huruf Arab pego.

Selain menjadi siswa di Muallimin, Gus Dur juga menjadi guru bagi adik-adik kelasnya untuk mata pelajaran bahasa Inggris. Di kelas bahasa inggris inilah nantinya Gus Dur menemukan cinta sejatinya. Karena di kelas itu ada sosok perempuan berkerudung minang nan cantik bernama Sinta Nuriyah.

Setelah lulus Madrasah Muallimin, Gus Dur diminta oleh Kiai Fattah untuk menjadi kepala Madrasah Muallimin karena dipandang sangat layak untuk menempati posisi itu. Akan tetapi setelah beberapa waktu menjadi kepala madrasah, Gus Dur tertarik untuk melanjutkan belajar ke Al Azhar Mesir setelah ada kunjungan Grand Syekh Al Azhar saat itu, Syekh Muhammad Shaltout ke Tambakberas.

Sehingga pada 1963 atas restu Kiai Fattah, Gus Dur berangkat kuliah ke Mesir. Setelah kuliah di Al Azhar itu beliau merasa kecewa karena materi yang diajarkan di perguruan tinggi tertua di dunia itu hanya mengulang materi yang pernah dikajinya di pesantren.

Hal ini menjadikan Gus Dur tidak mau menyelesaikan kuliahnya dan hanya hobi membaca buku di perpustakaan.
Di Tambakberas ada kisah yang menarik ketika Gus Dur ditugasi menjadi petugas keamanan pondok. Suatu ketika ada kasus santri yang melakukan pelanggaran berat dan berdasarkan peraturan pondok, santri itu harus dipulangkan ke rumah asalnya. Ketika kejadian itu dilaporkan kepada Kiai Fattah justru respon beliau membuat Gus Dur kaget, karena Kiai Fattah menyatakan bahwa santri itu telah dipasrahkan oleh orang tuanya agar dididik menjadi orang yang baik.

Akhirnya, dengan sikap bijaksananya seorang Kiai Fattah, santri itu dikeluarkan dari kamarnya kemudian disuruh pindah menempati kamar depan rumah Kiai Fattah. Santri itu dijadikan abdi ndalem yang ditugasi membawakan kitab Kiai Fattah dimanapun beliau mengaji atau mengajar sehingga kelak santri itu pulang ke rumah setelah menyelesaikan belajar di pondok dengan baik.

Bagi Gus Dur, sikap yang diambil oleh Kiai Fattah itu merupakan pelajaran yang berharga bagi dirinya untuk mengenal nilai humanisme dari seorang kiai.

Interaksi langsung dengan sosok Kiai Fattah di Tambakberas selama empat tahun ini sangat membekas pada hati Gus Dur, sehingga beliau sering menyampaikan bahwa Kiai Fattah adalah salah satu kiai yang memengaruhi pembentukan pola pikirnya.

Baca juga tulisan menarik lainnya Wafiyul Ahdi


Artikel ini telah terbit di: Alif.id dengan judul: Riwayat Gus Dur Nyantri di Tambakberas (1959 -1963)