Siapa Sastrawan Perempuan Setelah Nh. Dini?

Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin mengembuskan napas terakhirnya pada 4 Desember 2018. Sosok yang dikenal Nh. Dini ini merupakan sastrawan, novelis, juga dikenal sebagai pejuang perempuan. Apalagi, menjelang akhir hayatnya, ia mengabdikan dirinya di Wisma Lansia Harapan Asri Semarang yang merawat, memberdayakan, dan juga mendidik kaum lansia.

Nh. Dini merupakan satu dari deretan perempuan hebat di negeri ini. Meski banyak orang menanyakan agamanya, namun Nh. Dini patut menjadi rujukan dalam sastra, rujukan pula dalam kehidupan. Dalam Ensikplodia Kemdikbud (2018), saya menemukan bukti bahwa Nh. Dini pernah mendapat pendidikan agama Islam Jawa. Meski dalam keyakinan Nh. Dini tak jelas memeluk Islam atau Kristen, namun ia sendiri tak mempermasalahkan hal itu.

Beberapa sumber juga menyebut Nh. Dini memeluk Islam meski ia jarang tampil berkerudung. Hal itu juga terbukti dari nama aslinya dari perpaduan Bahasa Arab dan Jawa. Itu artinya, Nh. Dini Islam dan nasionalis meski pernah hidup di luar negeri dan bersuami orang Prancis.

Penulis Pada Sebuah Kapal (1972) ini tidak memaksakan salah satu agama pada anak-anaknya. Padahal, Nh. Dini sendiri mengantar anak-anaknya ke gereja saat kecil. Terlepas dari agama Nh. Dini, yang jelas beliau berkarya, dan mengabdi untuk kemanusiaan. Karya-karyanya sangat berpengaruh bagi perkembangan ilmu sastra, karya sastra, feminisme, dan kehidupan.

Berkarya, Mengabdi untuk Kemanusiaan

Hidup Nh. Dini dihabiskan untuk berkarya dan mengabdi untuk kemanusiaan. Tercatat, dari awal dekade kemerdekaan negara ini, ia menulis 20 karya lebih. Mulai dari Bagi Seorang jang Menerima (1954) hingga Dari Rue Saint Simon ke Jalan Lembang (2012). Sebelum wafat, istri Yves Coffin ini selama empat tahun menghuni Wisma Lansia Harapan Asri telah menghasilkan sebuah novel Di Kaki Gunung Ungaran.

Sastrawan bernas dari pasangan Kusaminah dan Saljowidjojo ini memang mengabdi lewat karya sastra dan gerakan feminisme yang ia buktikan dengan aksi nyata. Bisa dinarasikan, Nh. Dini berjuang melalui kata, sastra, dan rasa.

Sangat sedikit perempuan sekaliber Nh. Dini. Catatan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin (2018) menyebut Nh. Dini mulai menulis syair dan sajak pada usia sembilan tahun. Bahkan, sampai akhir hayat di umur 82 tahun, Nh. Dini terus berkarya dan mengabdi.

Baca Juga:  Ihwal Harga Minyak, Indonesia, dan Iran

Tidak heran ia pernah mendapat penghargaan SEA Write Award di bidang sastra dari Pemerintah Thailand, digelari pengarang “sastra feminis,” dan mendapat Lifetime Achievement Award dalam malam pembukaan Ubud Writers and Readers Festival 2017. Masih banyak kiprah dalam dunia sastra dan penegakan hak-hak perempuan yang diinisasi Nh. Dini. Namun masalahnya, berapa penerus Nh. Dini dari kaum hawa? Sudahkan anak-anak kita hari ini mengenalnya?

Menanti Penerusnya

Diakui atau tidak, Indonesia sangat kekurangan sastrawan perempuan. Entah karena perempuan sebagai “objek” keindahan, masalah gender, atau “kemalasan berpikir” estetik soal karya sastra. Hal ini yang menjadikan para ilmuwan sastra resah karena jumlah sastrawan pria lebih banyak ketimbang sastrawan perempuan.

Hal itu dipengaruhi pula, fakultas/jurusan bahasa dan sastra tidak “mencetak” sastrawan. Melainkan, hanya mencetak kritikus/apresiator/peneliti sastra belaka. Wajar jika sangat minum sastrawan lahir dari bangku perkuliahan. Jika ada, hanya beberapa, itupun belum jelas posisinya, apakah ia sebagai “sastrawan” yang menghasilkan karya sastra, atau “kritikus sastra” yang kemudian tertarik menulis karya sastra.

Selain Nh. Dini, jika kita himpun jumlah sastrawan perempuan, entah dari kalangan cerpenis, novelis, penyair, baik yang sudah meninggal atau masih hidup tentu sangat sedikit. Contohkan saja Suwarsih Djojopuspito, Helvy Tiana Rosa, Sariamin Ismail (Selasih), Medy Loekito, Djenar Maesa Ayu, Ayu Utami, Asma Nadia, Fatin Hamama, Nukila Amal, Marga Tjoa, Mira Wijaya, Clara Regina Juana, Icha Rahmanti, Dorothea Rosa Herliany, Dina Oktaviani.

Baca Juga:  Saat Gus Dur Berhasil Satukan Kembali Muslim Moro dengan Negara Filipina

Kemudian, Fira Basuki, Dewi Lestari, Dyah Merta, Diah Hartini, Ratih Kumala, Ratna Indraswari, Rieke Diah Pitaloka, Dewi Lestari Simangunsong, Kinanthi Anggraini, Karolina Fabiola, Nana Riskhi Susanti, dan lainnya. Ada juga S.Mara Gd, novelis yang misterius profilnya, bahkan juga karya-karya yang dihasilkan selalu menyimpan teka-teki.

Dari data yang saya dapat, kira-kira hanya itu. Entah mereka disepakati sebagai “sastrawan”, hanya berposisi sebagai “penulis” atau “kritikus sastra”. Sebab, yang memberi label “sastrawan” di negeri ini masih belum jelas dan baku. Apalagi munculnya karya sastra virtual memudahnya masyarakat “mengklaim” dirinya sebagai sastrawan. Padahal, dulu seorang sastrawan harus menulis, mengirim dan dimuat di koran, majalah, penerbit ternama untuk “legal” disebut sastrawan, bukan menerbitkan karyanya sendiri, kemudian mengklaim sebagai sastrawan.

Jumlah di atas jika dibandingkan jumlah sastrawan pria di Indonesia tentu belum ada seperempatnya. Ironisnya, dari daftar nama di atas, dalam buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh (2014), nama yang masuk hanya tiga, yaitu Nh. Dini, Ayu Utami, dan Helvi Tiana Rosa.

Artinya, secara kuantitas dan kualitas karya sastra perempuan di negeri ini masih ditunggu kiprahnya.  Karya sastra besutan kaum hawa bukan rendah, namun sedikit tapi bernas. Hal itu harus menjadi kunci yang harus memotivasi kaum hawa berkarya.

Embrio Sastrawan Perempuan

Sebutan sastrawati kurang lazim di dunia sastra. Yang ada atau kebanyakan hanya “sastrawan perempuan”. Embrio sastrawati ini tidak bisa jika hanya mengandalkan lembaga pendidikan saja. Faktanya, di perguruan tinggi yang membuka jurusan/fakultas bahasa dan sastra hanya mendidik mahasiswa untuk menjadi kritikus/apresiator sastra.

Untuk itu, perlu langkah strategis agar embrio sastrawan perempuan bergeliat dan ada penerus Nh. Dini dan sastrawati lainnya. Pertama, reorientasi kurikulum dan capaian pembelajaran di perguruan tinggi yang membuka jurusan bahasa dan sastra lebih kepada produk, bukan sekadar mengapresiasi atau mengritisi karya sastra orang lain.

Baca Juga:  Politik Musuh Islam

Kedua, cakupan sastra hanya dua, yaitu ilmu sastra dan karya sastra. Selama ini, dunia akademik kita hanya berorientasi pada “ilmu sastra” saja. Maka wajar jika mereka hanya dididik menjadi kritikus, apresiator, dan peneliti sastra, bukan menghasilkan karya sastra. Titik.

Ketiga, harusnya, rumah-rumah baca, komunitas seniman, teater, lebih mendominasi karya-karya sastra yang berkembang. Sebab, kampusnya sastrawan adalah “kehidupan nyata” dan jalanan. Universitas mereka adalah “universitas jalanan”.

Keempat, menggeliatkan sastra pesantren yang mendorong santriwan perempuan menulis. Selama ini, satrawan pesantren masih didominasi kaum adam. Itupun jumlahnya sangat sedikit. Dari kalangan santri atau kiai, hanya ada nama Cak Nun, Gus Mus, D. Zawawi Imron, Habiburrahman El Shirazy, dan lainnya.

Kelima, harusnya perempuan sadar, bahwa hidup tidak selamanya “mengonsumsi”, membaca, dan baper terhadap karya satra. Mereka wajib menulis, menarasikan kehidupan dalam bentuk karya sastra. Tiap detik, ada ide yang bergerak, dan ada masalah untuk ditulis dengan kata indah dan enigmatis.

Jika demikian, maka akan mudah menulis karya sastra dan tak perlu belajar teorinya yang bertele-tele. Sebab, kebanyakan sastrawan menulis tanpa menggunakan teori, menulis hanya hobi, tanpa alasan, dan memang sebagai katarsis, serta sebagai “alat” untuk mencapai tujuan.

Nh. Dini, menjadi salah satu contohnya. Sejak kecil hingga akhir hayat masih abadi lewat sastra. Jika Nh. Dini berjuang untuk sastra dan perempuan, kini siapa penerusnya?

Baca juga tulisan menarik lainnya Hamidulloh Ibda


Artikel ini telah terbit di: Alif.id dengan judul: Siapa Sastrawan Perempuan Setelah Nh. Dini?