Tanpa Imbalan, Mbah Jan Berkhidmah Lebih Setengah Abad di Banser

Nahdliyin.id, OKI – Usia Wakijan (Mbah Jan) sudah 75 tahun. Tapi Mbah Jan masih aktif mengikuti kegiatan Barisan Ansor Serbaguna (Banser) walau sejak masuk sebagai kader inti Pemuda Ansor tidak mendapat gaji.

“Menjadi Banser itu asyik, karena bisa mendampingi kiai dan para alim ulama. Itu jalan mendapat ilmu,” ujar dia, di Kayu Agung, Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, Ahad (4/3).

Pria kelahiran Yogyakarta, 10 Oktober 1943 itu bergabung dengan Banser mulai tahun 1959. Ia pernah merantau ke  Blitar dan bergabung dengan Banser setempat yang kala itu mempunyai kesatuan Gagak Hitam.

“Menjadi Banser itu ikhlas lillahi ta’ala, karena Allah dan demi agama. Ini yang membuat saya masih cinta dan aktif ikut kegiatan Banser,” ujar warga Desa Kampung Baru, Kecamatan Mesuji Makmur, Kabupaten OKI yang berprofesi sebagai juru kunci makam ini.

Baca Juga:  NU akan Tentukan 1 Zulhijah 12 Agustus sedang Muhammadiyah Idul Adha 2018 di 22 Agustus

Ia menambahkan, Banser ialah badan semi otonom Pemuda Ansor yang luar biasa hebat.

“Hebatnya Banser itu bisa rukun, marem (puas) karena dalam kegiatan selalu bisa bersilaturahmi dengan sesama Banser baik tua atau yang muda. Dan itu ialah hal menyenangkan sekaligus menegaskan Banser ini luar biasa, selalu bisa bersatu,” katanya.

Mbah Jan berharap, GP Ansor dan Banser semakin maju dan jaya. Percaya dengan ajaran Islam dan Aswaja. “Wejangan saya terima dulu cuma itu, kon yakin karo agama lan Aswaja (harus yakin dengan Islam dan Aswaja),” ujar Mbah Jan.

Asinfokom Satkornas Banser Gatot Arifianto berharap, semangat Mbah Jan bisa diteladani kader. “Mbah Jan mengajarkan bahwa Banser ialah jalan mencari ilmu dan berkhidmah tanpa embel-embel. Sesederhana itu menjadi Banser,” ujar Gatot. (Sendi/Alhafiz K)
Sumber: Nu.or.id

Baca Juga:  Ayat Khilafah versi HTI