Taubat, Pondasi Kuat Dekatkan Diri Kepada Allah

Taubat adalah pondasi dari segala perbuatan manusia untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Tanpa dilandasi taubat yang baik dan benar, seseorang yang ingin menggapai Tuhan adalah seperti orang yang membangun rumah megah diatas tanah labil dan goyah. Akan mudah hancur. Sebaliknya siapa yang benar taubatnya maka ia telah membangun pondasi kuat dan memiliki bangunan yang kokoh.

‚ÄúSiapa yang memperkuat taubatnya, Allah akan menjaganya dari segala yang merusak kesucian amalnya,” demikian penjelasan Pengasuh Pesantren YPPTQMH Ambarawa Pringsewu, Lampung, Gus Mubalighin Adnan saat menjelaskan masalah taubat dalam kitab Minahussaniyah pada Jihad Pagi (Ngaji Ahad Pagi) di aula Kantor PCNU Pringsewu, Ahad (28/10).

Gus Balighin menegaskan pula bahwa taubat mempunyai kedudukan penting dan memiliki pengaruh yang sangat besar bagi amal ibadah manusia. Taubat setara dengan zuhud yang akan menjaga manusia dari segala sesuatu yang bisa menghalangi kedekatan manusia kepada Allah.

“Seseorang yang tidak benar cara taubatnya, maka justru akan menjatuhkan dan menghancurkan kedudukannya disisi Allah. Amal dan ibadah yang telah dilakukan akan lemah seperti bangunan rumah dengan hanya susunan bata tanpa perekat semen,” jelasnya.

Siapa yang benar cara taubatnya lanjutnya, maka akan bisa meningkatkan kedudukannya di sisi Tuhan. Sebaliknya, siapa yang tidak benar cara taubatnya, maka semua akan sia-sia.

“Orang yang benar-benar bertaubat akan mampu menjaga keinginan-keinginan nafsunya. Ia akan mampu menjaga pikiran-pikiran kotornya. Taubat adalah perintah Allah dan termaktub dalam firman Allah Surat Hud ayat 112: Tetaplah kamu pada jalan yang benar dalam bertaubat, sebagaimana yang diperintahkan, dan orang-orang yang bertaubat bersamamu,” terangnya.

Gus Balighin juga mengungkapkan bahwa semangat ibadah setiap manusia terus mengalami perubahan. Saat keimanan kuat, ibadah akan tekun dilaksanakan dan terasa nikmat dalam beribadah. Namun terkadang saat keimanan lemah, seseorang akan terasa jauh dengan Allah dan ibadah pun terasa hampa.

“Dengan mengistikomahkan taubat, maka ibadah kita akan terus terbarui dan kemurnian ibadah akan senantiasa terjaga,” tandasnya.
Sumber: Nu.or.id

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*