Viral: Keunikan Jama’ah Haji asal Cilacap Pakai Caping Sebagai Penanda

Nahdliyin.id, CILACAP – Sejumlah calon jemaah haji asal Cilacap yang diberangkatkan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) Al Munawaroh berpenampilan beda dari calon jamaah haji lain pada umumnya.

40 anggota yang umumnya petani ini seakan tak mau menanggalkan atribut hariannya. Mereka berangkat ke tanah suci mengenakan atribut khusus petani ini, tudung atau caping. Mereka kini telah berada di tanah suci.

Atribut itu biasa mereka kenakan saat beraktivitas di sawah atau kebun yang menjadi tempat mengais rizki para petani ini.

Bagi petani, caping biasa dikenakan untuk melindungi mereka dari sengatan panas matahari. Kondisi sawah yang berupa hamparan luas membuat terik lebih ganas mengenai kulit.

Di Arab Saudi, cuaca mungkin lebih terik. Tak ada salah mereka membawa caping untuk melindungi diri dari sengatan matahari di tanah suci.

Baca Juga:  Anak Takut Pada Hantu? Ajarkan Mereka Empat Hal Ini

Tentu saja, caping berwarna hijau cerah itu tidak akan dipakai saat menunaikan ibadah haji. Mereka hanya akan mengenakannya di luar pelaksanaan ibadah haji.

Semisal, saat dalam perjalanan berangkat dari masjid atau tempat lainnya di luar ibadah haji.

“Di sana itu kan suhunya panas. Kalau memakai i itu kan bisa untuk melindungi dari terik,”kata Sekretaris KBIH Al Munawaroh, Cipari Kabupaten Cilacap, Taqiyudin

Di luar itu, para jamaah haji asal Cilacap ini ternyata punya misi khusus mengenakan caping di tanah suci.

Caping selama ini menjadi atribut khas petani Indonesia. Penggunaan caping di tanah suci sekaligus untuk memperkenalkan budaya nusantara yang lekat dengan kebudayaan agraris.

Baca Juga:  Ramahnya Kota Al-Haromain kepada Kaum Difabel

Taqi mengungkapkan, dari 40 jamaah haji KBIH Al Munawaroh, rata-rata berprofesi sebagai petani. Meski ada yang berprofesi sebagai guru Aparatur Sipil Negara (ASN). Namun di luar kesibukannya, mereka tetap beraktivitas di kebun atau sawah.

“Ini bagus untuk diperkenalkan,” ujarnya.

Tahun ini adalah kali kedua jamaah haji KBIH Al Munawaroh mengenakan caping ke tanah suci. Tahun lalu, kekhasan jamaah haji KBIH Al Munawaroh mendapatkan sambutan positif dari masyarakat dunia yang berkumpul di tanah suci.

Bahkan, menurut dia, banyak jemaah haji negara lain tertarik dengan atribut unik jemaah haji Cilacap ini.
“Banyak yang tanya, ada juga yang mau beli,” ujarnya.

Caping milik jemaah haji asal Cilacap ini dibeli dari pengrajin caping di Cipari, Cilacap. KBIH Al Munawaroh lantas mengecat hijau caping-caping itu agar seragam dan menunjukkan identitas kelompok.

Baca Juga:  Berhidmat Dengan Kerja Nyata

Tujuan pengenaan atribut seragam ini di sisi lain agar jemaah haji KBIH Al Munawaroh mudah mengenali kelompoknya.
Seandainya hilang atau tersesat, mereka akan mudah ditemukan atau menemukan kelompoknya dengan atribut khas yang dipakai.

Jamaah haji KBIH Almunawaroh ini tak asal memakai caping tanpa sepengetahuan petugas.

Pihaknya sebelumnya telah berkomunikasi dengan Kementerian Agama dan ketua rombongan untuk membawa atribut khusus ini selama di tanah suci. Mereka tak mempermasalahkan penggunaan atribut khusus itu.

“Caping digunakan bukan saat ibadah haji. Dipakai saat menuju masjid, hotel atau tempat lainnya, biar tidak panas,” ujarnya.