Warga Nahdliyin Serukan Khittah 1926

Nahdliyin.id – Dalam rangka perayaan HUT RI ke-73, ribuan warga nahdliyin menggelar Istighosah Qubra di halaman Masjid Jami’ Nurul Islam Koja, Jalan Cipeucang II, Koja, Jakarta Utara, Ahad (19/8) malam. Dalam acara ini, warga Nahdliyin juga menyerukan kembali khittah NU 1926 demi menyelamatkan organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut.

Acara Istigosah bertema “Kembalikan NU ke Khittah 1926 Sebagai Payung Bangsa” ini dihadiri sejumlah tokoh NU dan juga putri almarhum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Yenny Wahid. Hadir juga Ketua Rais Syuria NU DKI, KH Mahfudz Asirun.

Ketua Panitia Istoghosah, Muhammad Rawi mengatakan, bahwa acara digelar untuk menyerukan kembali bahwa NU didirikan semata-mata untuk tujuan kemaslahatan umat, bukan tujuan untuk kepentingan politik praktis. Hal ini sesuai dengan khittah 1926 yang dirumuskan dalam Muktamar ke-27 NU yang digelar tahun 1984 di Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah, Sukorejo, Situbondo.

Baca Juga:  Tanah Perdamaian Leluhur di Pulau Doom

“Khittah ini memang didirikan semata-mata untuk kemaslahatan umat, tidak ada tujuan yang berhubungan dengan politik,” ujar Rawi kepada wartawan usai istigosah.

Melalui khittah 1926 tersebut, organisasi NU tidak boleh hanya dijadikan jembatan untuk kepentingan sesaat, tapi NU harus menjadikan tujuan utama untuk kemaslahatan umat. Dia pun berharap, di tahun politik ini warga nahdliyin tetap bersatum

“Di dalam suasana politik saat ini, maka kami selaku warga nahdliyin untuk mempersatukan kembali agar suasana yang selama ini banyak berita yang ke barat ke timur, dengan berkumpulnya doa bersama istigosah kubra ini menjawab bahwa warga NU bersatu,” ucapnya Ketua Umum Ikatan Keluarga Madura ini.

Baca Juga:  Mobil Tua Pendukung Kekuatan Politik-Mistik Gus Dur

Di tempat yang sama, Ketua Rais Syuria NU DKI, KH Mahfudz Asirun menjelaskan bahwa NU memang tidak terlibat dalam politik praktis, sehingga organisasi NU tidak memihak pada salah satu calon pemimpin yang akan maju pada Pilpres 2019 mendatang.

“Kalau kembali ke khittah itu kan NU tidak ke sana dan kemari. Maksudnya NU itu dikeluarkan untuk manusia, bukan untuk golongan. Di mana saja dia berdakwah. Di pihak A dia berdakwah, di pihak B berdakwah juga,” katanya.